Apa arti ulang tahun bagi seseorang? Saat-saat membahagiakan pastinya, bukan? Ketika seseorang mengucapkan "selamat ulang tahun", berlonjaklah hati gembira. Datanglah kiriman kado, ucapan, dan jutaan kebahagiaan dari berbagai penjuru mata angin. Lalu apa yang akan dilakukan? Membuka kado, membalas ucapan-ucapan, atau makan-makan sekadar berbagi kebahagiaan di usia yang baru?
08 Agustus 2009, seorang sahabat berulang tahun. Kalau ditanya siapakah dia? Ya, seorang sahabat dan seorang saudara angkat jauh yang diangkat tanpa sengaja oleh sebuah pertemuan yang juga tanpa sengaja.
Dan kini, hari ini, tulisan ini seratus persen kupersembahkan untuk para sahabat sebagai rasa terimakasih atas persaudaraan dan rasa persahabatan kita yang tak akan pernah kubuat pudar sama sekali. Ketika rentang waktu yang kita miliki begitu jauh dan jarak yang memisahkan kita begitu terbentang luas,
Selamat ulang tahun, untukmu... Untukmu sahabat!
kata itu menghiasi hari-hariku mulai dari dinihari hingga kini
Sesungguhnya, aku tak tahu bagaimana ulang tahunku hari ini.
Kalau ditanya apakah bahagia dengan usia baru? Dengan jujur, kukatakan tidak. Aku merasa semakin tua dan tua. Rasanya kalau boleh aku mau berjiwa seperti anak-anak walau itu tak akan mungkin. Sadar diri. Padahal wahana yang paling nikmat untuk bermain dan menikmati hidup adalah ketika kita masih muda dan anak-anak. Maka berbahagialah mereka yang masih muda, dan menikmati masa anak-anaknya.
Ketika seseorang telah memasuki babak pendewasaan, semakin lenyap masa-masa bermain. Mereka harus bisa mendewasakan diri dan meningkatkan kuwalitas hidup dan ibadah nya bagaimanapun keadaannya. Sayangnya, tak sedikit orang yang tua namun tak dewasa. Mengutip perkataan kawanku "tua itu pasti, dewasa itu pilihan." Dan aku mengamininya. Memang benar, tak banyak orang yang dapat berpikir dewasa.
Maka, kalau aku bertanya, patutkah aku berbahagia kala ulang tahunku ini? Ketika usia bertambah menjadi tua, raut wajah akan semakin keriput, dan kita kehilangan jiwa kemenangan kita. Ketika pijakan usia di dunia semakin singkat, menyusut dimakan waktu perlahan. Pada akhirnya kita akan tertuju pada satu jalan dan titik akhir kehidupan dunia dan titik awal kehidupan akhirat dan semua orang pasti sama-sama akan menjalaninya. Hanyalah berbeda waktu, tempat, dan caranya saja.
wahai sahabat, kalau kau baca postinganku ini, janganlah kau rasa hari ini kau tak patut bersuka cita karena umurmu bertambah atau terpelangah di depan cermin sambil memandangi wajahmu. Keriput atau tidak.Sebaliknya, Re koreksi diri dan persiapkan diri untuk tingkat kedewasaan lebih mendatang,dan kwalitas hidup serta ibadah yang lebih baik.
Nah, sahabat, apa alasanku membagikan tulisan ini? Itulah ungkapan rasa terimakasih dan rasa yang ada dalam jiwaku ini ketika aku mengalami ulang tahun pada hari ini. Aku selalu menolak untuk menjadi tua dan tua. Malah sebaliknya, aku masih ingin berpetualang dengan jiwa mudaku ini. Selalu dan selamanya. Mengutip kata Chairil Anwar dalam puisinya Aku: "Aku ingin hidup seribu tahun lagi..." Kau kan tahu sendiri jiwaku macam apa. Apa yang ingin kuraih dalam hidup dan di mana kelak aku menginginkan nyawaku melayang. Kurasa semuanya nyaris tak ku ketahui.
tak ada kata yang dapat mewakili perasaanku ini selain kata terimakasih atas Do'a dan ucapan kalian wahai para sahabtku yang jauh di mata namun dekat di jiwa,
08 Agustus 2009, seorang sahabat berulang tahun. Kalau ditanya siapakah dia? Ya, seorang sahabat dan seorang saudara angkat jauh yang diangkat tanpa sengaja oleh sebuah pertemuan yang juga tanpa sengaja.
Dan kini, hari ini, tulisan ini seratus persen kupersembahkan untuk para sahabat sebagai rasa terimakasih atas persaudaraan dan rasa persahabatan kita yang tak akan pernah kubuat pudar sama sekali. Ketika rentang waktu yang kita miliki begitu jauh dan jarak yang memisahkan kita begitu terbentang luas,
Selamat ulang tahun, untukmu... Untukmu sahabat!
kata itu menghiasi hari-hariku mulai dari dinihari hingga kini
Sesungguhnya, aku tak tahu bagaimana ulang tahunku hari ini.
Kalau ditanya apakah bahagia dengan usia baru? Dengan jujur, kukatakan tidak. Aku merasa semakin tua dan tua. Rasanya kalau boleh aku mau berjiwa seperti anak-anak walau itu tak akan mungkin. Sadar diri. Padahal wahana yang paling nikmat untuk bermain dan menikmati hidup adalah ketika kita masih muda dan anak-anak. Maka berbahagialah mereka yang masih muda, dan menikmati masa anak-anaknya.
Ketika seseorang telah memasuki babak pendewasaan, semakin lenyap masa-masa bermain. Mereka harus bisa mendewasakan diri dan meningkatkan kuwalitas hidup dan ibadah nya bagaimanapun keadaannya. Sayangnya, tak sedikit orang yang tua namun tak dewasa. Mengutip perkataan kawanku "tua itu pasti, dewasa itu pilihan." Dan aku mengamininya. Memang benar, tak banyak orang yang dapat berpikir dewasa.
Maka, kalau aku bertanya, patutkah aku berbahagia kala ulang tahunku ini? Ketika usia bertambah menjadi tua, raut wajah akan semakin keriput, dan kita kehilangan jiwa kemenangan kita. Ketika pijakan usia di dunia semakin singkat, menyusut dimakan waktu perlahan. Pada akhirnya kita akan tertuju pada satu jalan dan titik akhir kehidupan dunia dan titik awal kehidupan akhirat dan semua orang pasti sama-sama akan menjalaninya. Hanyalah berbeda waktu, tempat, dan caranya saja.
wahai sahabat, kalau kau baca postinganku ini, janganlah kau rasa hari ini kau tak patut bersuka cita karena umurmu bertambah atau terpelangah di depan cermin sambil memandangi wajahmu. Keriput atau tidak.Sebaliknya, Re koreksi diri dan persiapkan diri untuk tingkat kedewasaan lebih mendatang,dan kwalitas hidup serta ibadah yang lebih baik.
Nah, sahabat, apa alasanku membagikan tulisan ini? Itulah ungkapan rasa terimakasih dan rasa yang ada dalam jiwaku ini ketika aku mengalami ulang tahun pada hari ini. Aku selalu menolak untuk menjadi tua dan tua. Malah sebaliknya, aku masih ingin berpetualang dengan jiwa mudaku ini. Selalu dan selamanya. Mengutip kata Chairil Anwar dalam puisinya Aku: "Aku ingin hidup seribu tahun lagi..." Kau kan tahu sendiri jiwaku macam apa. Apa yang ingin kuraih dalam hidup dan di mana kelak aku menginginkan nyawaku melayang. Kurasa semuanya nyaris tak ku ketahui.
tak ada kata yang dapat mewakili perasaanku ini selain kata terimakasih atas Do'a dan ucapan kalian wahai para sahabtku yang jauh di mata namun dekat di jiwa,

Tidak ada komentar:
Posting Komentar