Rabu, September 30, 2009

Tentang Mahabbah dan Ma'rifat

Oleh: Tri Wibowo BS

Allahumma inii as aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka
(Ya Allah, aku memohon agar Engkau karuniakan cinta kepada-Mu, dan agar aku bisa mencintai orang-orang yang mencintai-Mu)
Ilahi anta maqshuudi wa ridhoka mathluubi a’tini mahabbataka wa ma’rifataka
(Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan ridho-Mu yang kuharapkan, beri daku kecintaan dan makrifat kepada-Mu)
“Nafas Ar-Rahman menjadikan semesta ini ada, guna memancarkan cinta dan apa-apa yang dilihat oleh Pencinta dalam Diri-Nya. Melalui penyaksian Yang Lahir, Dia mengenal Diri-Nya sendiri,” demikian tulis Syekh Al-Akbar dalam Futuhat Al-Makiyyah. Sifat Tuhan kepada alam, mikro maupun makro, adalah mencintai, sebab “Aku rindu untuk dikenal, maka Aku ciptakan semesta.” Cinta bagi hampir semua Sufi, adalah dasar dari penciptaan. Juga dikatakan oleh beliau bahwa Islam sepenuhnya adalah agama cinta, sebagaimana juga Rasul Muhammad adalah yang dikasihi Allah—habibillah. Cinta, kata Jalaluddin Rumi, adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan seluruh kekurangan diri. Dan hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Hanya mereka yang mencintai sepenuh hati sajalah yang mampu meniadakan diri (fana) di dalam Diri Sang Kekasih (Allah).
Cinta kepada Allah (mahabbah) bukan cinta dalam pengertian keduniawian, yang masih melibatkan ego dan keinginan untuk diri sendiri. Cinta Sufi adalah dalam rangka merespons hadis “Aku rindu untuk dikenal,” yakni seorang pencinta harus mengenal Allah sebagaimana Dia mengenal Diri-Nya sebagai Perbendaharaan Tersembunyi yang menyimpan segala Keindahan (jamal), Keagungan (jalal) dan Kesempurnaan (kamal). Tetapi, karena hanya Allah yang mengenal Allah, maka satu-satunya cara bagi Sufi adalah “bersatu” dengan Allah, mem-fana-kan sifat-sifat buruk dan bahkan kediriannya dan mengenakan sifat-sifat-Nya dalam ke-baqa-an, lalu menyaksikan bahwa segala sesuatu hanyalah Allah saja. Dengan cara inilah Sufi bisa “meminjam” perspektif” Allah dalam memandang Diri-Nya sendiri.
Jadinya, tanpa cinta, Perbendaharaan Tersembunyi akan selamanya tersembunyi. Tanpa cinta, tiada alam semesta. Tanpa cinta, tidak ada “persatuan” dengan Allah. Tetapi apakah sesungguhnya cinta (mahabbah) itu? Cinta menurut Sufi adalah salah satu maqam dalam perjalanan spiritual. Tetapi definisi yang pasti untuk soal ini amat sulit, jika tidak bisa dikatakan mustahil. Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi dengan jelas mengatakan bahwa cinta tidak bisa didefinisikan:
Di kalangan orang-orang arif dan yang membicarakannya, cinta adalah sesuatu hal yang tidak bisa didefinisikan. Cinta diketahui oleh orang-orang yang mengalaminya … tanpa mengetahui (secara persis) apa sesungguhnya cinta itu, dan mereka tidak menyangkal eksistensi riilnya.
Sasaran cinta bagi Sufi adalah Perbendaharaan Tersembunyi dari Wujud Ilahi di setiap benda, sehingga seluruh dunia adalah pencinta sekaligus yang dicintai, dan semuanya akan kembali kepada-Nya. Cinta ilahi adalah sumber semua cinta, sebab Cinta Ilahi ada di dalam Diri-Nya (Dzat-Nya) sendiri yang mencintai kita demi diri kita dan demi Diri-Nya sendiri. Artinya, di satu sisi, cinta-Nya kepada kita demi diri kita adalah lantaran agar kita bisa mengenal-Nya dari amal ibadah yang membawa kita kepada pemenuhan keinginan-Nya dan menjauhkan diri kita dari segala hal yang bertentangan dengan keinginan-Nya—atau kita mengenal-Nya melalui takwa. Di sisi lain, Dia mencintai kita demi Diri-Nya sendiri karena “Aku adalah Perbendaharaan Tersembunyi, aku rindu (cinta) untuk dikenal, maka Aku ciptakan dunia agar Aku bisa dikenal mereka sehingga mereka mengenal-Ku.” Jadi, kata Syekh Akbar Ibnu Al-Arabi, “Dia menciptakan kita hanya demi mencintai Diri-Nya sendiri, agar kita mengenal-Nya,” yakni mengenal Keindahan dan Keagungan-Nya melalui perspektif-Nya dan, di atas semua, di dalam Diri-Nya—melalui fana dari diri kita dan baqa dalam Diri-Nya.
Ini juga berarti dua hal lain yang relevan, yakni, pertama, bahwa dalam rangka mendapatkan perspektif dari Yang Dicintai, seorang pencinta harus memenuhi keinginan dan perintah dari Yang Dicintai. Inilah ujian dalam cinta—cinta selalu membutuhkan pengorbanan demi yang dicintai. Syariat, tata hukum ilahi, dalam arti yang sempit maupun luas, adalah ketentuan yang harus dipatuhi. Tanpa mematuhi perintah, tidak akan ada persatuan, sebab cinta sejati tidak boleh mengandung pembangkangan terhadap sang Kekasih. Atau dalam bahasa Sufi, tanpa (mematuhi) syariat, tidak akan muncul hakikat (cinta).
Dan kedua, secara batin seorang pencinta tidak boleh berpaling kepada sesuatu selain sang Kekasih atau segala sesuatu yang membuat seseorang lupa kepada-Nya. Karenanya, bahkan kesenangan dalam beribadah menjadi sesuatu yang riskan, sebab bisa membelokkan pandangan pencinta dari Sang Kekasih. Seseorang yang masih memperhatikan kesenangannya dalam beribadah berarti dalam dirinya masih tersimpan kesenangan pada dirinya sendiri, masih ada pamrih, dan karenanya belum merealisasikan ikrar lillahi ta’ala. Ini adalah tingkatan yang sulit, sebab kenikmatan dalam beribadah adalah sesuatu yang diperbolehkan dan diharapkan. Nikmat iman adalah sesuatu yang dipuji dan dicari oleh umat Islam. Tetapi bagi sufi, mengharap-harap kenikmatan iman dalam beribadah sama artinya mengharap sesuatu selain Diri-Nya, yang berarti pula masih menyimpan perspektif dari diri dan, karenanya, belum sepenuhnya lebur dalam perspektif ilahi seutuhnya. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam nasihatnya mengatakan agar kita beribadah demi Allah saja, jangan demi nikmat-Nya. Di sini terdapat andil nafsu yang samar dan berbahaya bagi Sufi.
Syekh Ibnu Atha’illah As-Sakandari memperingatkan jebakan nafsu ini. Menurutnya, andil nafsu dalam maksiat bisa tampak jelas, tetapi andil nafsu dalam ketaatan sangat samar dan merusak keikhlasan beribadah. Karena itu kebanyakan Sufi lebih memilih situasi yang berat dan sempit (qabd) karena dalam kesempitan itu nafsu tidak punya tempat. Salah satu nasihatnya yang amat bagus adalah agar orang memilih amal yang terasa lebih berat bagi nafsunya. Dengan cara ini kita bisa mengetahui apa hakikat dari nafsu itu, dan apa bentuk tipu dayanya, baik tipu dayanya dalam hal kemaksiatan maupun tipu dayanya dalam ketakwaan. Secara bertahap sifat-sifat jahat dari nafsu ini akan kelihatan dan jika “musuh” ini sudah keluar dari persembunyiannya, akan lebih mudah bagi kita untuk menyerangnya. Ketika sifat-sifat jahat sudah dikalahkan, maka Allah akan mengaruniakan sifat-sifat-Nya kepada kita. Dalam analisis terakhir, taraf tertinggi adalah ketika seseorang menyadari bahwa bahkan keberadaannya sendiri adalah “dosa yang amat besar”. Menghilangkan dosa ini sama artinya meleburkan diri dalam fana, lalu baqa, dan akhirnya memandang keindahan dan keagungan-Nya. Pada titik ini cinta ilahi seorang Sufi tidak akan lagi tergoyahkan.
Maka, murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan), yakni Sufi menjadi lokus sempurna bagi Allah untuk melihat Diri-Nya sendiri. Dengan cara yang sama, yang mengingat menjadi yang diingat; yang mengetahui menjadi yang diketahui. Ini adalah tahap persatuan, tahap penyaksian sejati, atau pengetahuan sejati (makrifat). Jadinya, hubungan mahabbah dan makrifat adalah hubungan yang unik: timbal-balik sekaligus menyatukan, yang satu melahirkan yang lain.
Di satu sisi, ahli makrifat mengenal Allah sebagai Keindahan dan Keagungan, yang melahirkan mahabbah. Keindahan yang dikenal adalah Keindahan Dzat-Nya dan Keindahan Sifat-Nya dan Perbuatan-Nya. Karena itu mereka merasakan keindahan dalam amal (ihsan), yakni seperti dikatakan Nabi kepada Jibril, “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, bagaimanapun Dia melihatmu.” Yakni, melihat setiap kualitas positif dan indah dari Dzat-Nya yang termanifestasi dalam setiap lokus tajalli, mikrokosmos dan makrokosmos. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi menulis:
Penyebab cinta adalah Keindahan (jamal) yang merupakan milik-Nya, karena Keindahan dicintai lantaran dirinya sendiri (keindahan itu sendiri). “Allah itu Mahaindah dan Dia mencintai Keindahan.” Jadi Dia mencintai Diri-Nya sendiri dan penyebabnya adalah tindakan memperindah (ihsan). Tidak ada tindakan memperindah kecuali dari Allah dan tidak ada yang menjadikan indah kecuali Allah. Jadi ketika aku mencintai tindakan (amal) keindahan, aku hanya mencintai Allah semata, karena Dialah yang menciptakan keindahan (Muhsin); dan ketika aku mencintai keindahan (itu sendiri) aku tak mencintai sesuatu pun selain Allah karena Dia adalah Yang Mahaindah (Jamil). Jadi dalam setiap aspek dihubungkan hanya kepada Allah.
Di sisi lain, cinta menyebabkan orang semakin ingin mengenal yang dicintainya. Cinta dalam tingkat tertentu melahirkan makrifat. Ketika sang pencinta makin mengenal Yang Dicintai, terbitlah isyq (rindu dan cinta membara). Inilah saat ketika ruh-ruh manusia yang pada dasarnya suci kembali ke kondisi kefitriannya, diselimuti oleh Keindahan dan Keagungan Ilahi, dan lebur dalam Kesempurnaan-Nya yang Serba Menyatukan (tauhid). Saat ini terjadi maka Allah akan mempertontonkan Keindahan-Nya (Jamal) kepada kesadaran terdalam sang Sufi, yang menyebabkannya Sufi “jatuh cinta” di mana seluruh perhatiannya hanya pada Yang Dicintai sehingga Dia tak lagi melihat kepada yang lain, bahkan kepada dirinya sendiri.
Sebagian Sufi yang tenggelam dalam cinta mendalam ini mengalami guncangan dahsyat hingga mencapai ekstase, mengucapkan syatahat yang menggemparkan: ana al-haqq (Akulah Kebenaran)!; la ilaha illa al-isyq (tiada tuhan selain Cinta); subhani maa adzama syaani (Mahasuci aku, alangkah besarnya keagungan-Ku)!; laisa jubbatin siwa Allah (Tiada yang ada dalam jubahku kecuali Allah)!; anna rabbakum fa’ buduunii (Akulah Tuhanmu, taatilah aku). Jadi, ketika “keakuan” Sufi keluar atau sirna (fana), maka “Ke-Aku-an” Tuhan yang abadi akan masuk sehingga “mengabadikan” sang Sufi (baqa) bahkan sebelum Sufi itu meninggalkan dunia, mereka telah merealisasikan perintah Nabi, mutu qabla an tamutu—”matilah engkau sebelum engkau mati.” Kematian berarti leburnya sifat-sifat seseorang dalam Sifat-sifat Tuhan. Karenanya ada pepatah Sufi mengatakan “Tiada kebaikan dalam cinta tanpa kematian.”
Ketika engkau jatuh cinta, kata sebagian sufi, engkau tidak boleh berpaling kepada selain Kekasih. Sang Kekasih akan cemburu jika cinta diduakan. Tuhan tidak akan memperkenankan apa pun berbagi dengan-Nya, karena hal itu adalah syirik. Jadi, “Tuhan adalah pencemburu,” kata Wali Allah yang agung, ratunya para pencinta Tuhan, Rabi’ah Al-Adawiyah. Menyembah-Nya demi surga atau lari dari neraka menandakan seseorang masih menduakan Tuhan, demikian pandangan Rabi’ah Al-Adawiyah. Dengan kata lain, orang yang beribadah demi surga berarti masih menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri. Ia masih mengandaikan dirinya ada. Padahal, kata Al-Hallaj, “keberadaanmu adalah dosa yang tiada bandingannya.” Dan karenanya dia berdoa agar “aku” yang menghalanginya dari “Aku” dihilangkan oleh-Nya. Ia berseru dalam sajaknya:
Antara Aku dan Kau ada sebuah ‘Aku’ yang menyiksaku.
Ambillah, demi Aku‑Mu Sendiri, milikku diantara kita.
Bunuhlah aku, o sahabat-sahabatku yang terpercaya!
Karena dalam kematianku terdapat kehidupanku.
Imam Al-Ghazali, dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, mengisahkan cerita yang mengharukan mengenai “kematian” ini. Suatu ketika Nabi Ibrahim dipanggil oleh malaikat maut, namun beliau menolak mengikutinya, karena beliau tidak bisa mempercayai bahwa Tuhan akan membunuh seseorang yang begitu cinta kepada‑Nya. Tetapi malaikat mengatakan kepadanya; adakah orang mencintai menolak untuk pergi kepada kekasih­nya? Setelah didengar kata‑kata itu, dengan rela beliau menyerahkan nyawanya kepada malaikat maut. Seperti dikatakan Schimmel
Pencinta yang sudah belajar menerima kematian sebagai jembatan kepada yang dicintai seharusnya menyerahkan ‘nyawanya dengan senyum seperti bunga mawar’ (Rumi); itulah sebabnya Al‑Hallaj menari‑nari dengan tangan terbelenggu ketika dibawa untuk dihukum mati. Kaum Sufi yakin akan firman Tuhan: Jangan sebut mati mereka yang terbunuh karena Tuhan; tidak, sesungguhnya mereka hidup (QS. 3:163). Kata la dalam bagian pertama syahadat yang diumpamakan pedang itulah yang membunuh sang pencinta; kemudian tak ada yang tinggal kecuali Tuhan.
Sulthan Al-Muhibbin Maulana Jalaluddin Rumi menggambarkan keadaan cinta yang menyatukan dengan cara lain yang tak kalah eloknya:
Seseorang mengetuk pintu kekasihnya;
sang kekasih bertanya, “siapakah itu?”
Ia menjawab “aku”.
“Pergilah,” kata kekasihnya. “Engkau terlalu cepat! Di mejaku tidak ada tempat untuk yang mentah. Bagaimana yang mentah akan masak kecuali dalam api ketidakhadiran?”
Ia pun pergi dengan sedih, dan api perpisahan membakarnya sampai habis. Lalu ia kembali dan mondar-mandir di depan pintu sang kekasih.
Ia mengetuk pintu dengan memendam seratus kecemasan dan harapan, agar jangan ada ucapan kasar dari bibir sang kekasih.
“Siapa itu?” tanya sang kekasih. Ia menjawab, “Engkau, wahai pemikat segala hati.”
“Masuklah,” kata sang kekasih, “karena engkau adalah aku, masuklah. Tidak ada tempat untuk dua ‘aku’ di rumah ini.”
Syekh Sulthan al-Awliya Abu Hasan as-Syadzili mengatakan, “Sempurnalah kewalian orang yang mencintai Allah dan mencintai untuk Allah.” Syekh Qamaruzzaman al-Husaini pernah mengatakan kepada penulis bahwa beliau mencapai kedudukannya hanya karena mahabbah, Cinta Ilahi, sehingga beliau bahkan tak bisa berhenti berzikir, sebab sedetik saja beliau berhenti berzikir, nafasnya akan sesak. Seseorang yang mencintai Allah hingga ke titik tertinggi akan bisa “bercakap” langsung dengan Allah azza wa jalla, tanpa huruf dan tanpa kata.
Menurut Syekh Athaillah, ada empat tingkatan cinta: cinta untuk Allah, cinta karena Allah, cinta dengan Allah dan cinta dari Allah. Awalnya adalah cinta untuk Allah dan akhirnya cinta dari Allah – murid (yang menginginkan) menjadi murad (yang diinginkan, seperti telah dijelaskan di atas dan di bab lain buku ini). Syekh Athaillah selanjutnya menjelaskan dalam Lathaif al-Minan:
Cinta untuk Allah adalah mengutamakan Allah ketimbang selain-Nya. Cinta karena Allah adalah mencintai Wali Allah karena Allah. Cinta dengan Allah adalah mencintai orang atau sesuatu tanpa hawa nafsu. Dan cinta dari Allah adalah Dia menarikmu dari segala sesuatu sehingga hanya Dia yang kau cintai … [Syekh Abu Hasan] menyatakan bahwa cinta adalah Allah menarik hamba-Nya dari segala sesuatu selain Dia. Ia akan selalu taat, akalnya dilindungi ma’rifat, ruhnya terserap ke dalam hadirat-Nya, dan sirr-Nya sibuk menyaksikan-Nya … Ia mendapatkan segala hakikat dan pengetahuan, dan karenanya “Para Wali Allah adalah pengantin Allah.”
Dalam cinta sejati tidak ada “engkau dan aku” karena menurut hadis Nabi dikatakan “Seseorang sama dengan yang dicintainya,” atau juga “orang yang mencintai selalu bersama yang dicintainya” (al-muhibb ma’a man ahabba), sebagaimana pengantin selalu bersama. Tiada perpisahan di sana, hanya ada persatuan sejati, Tauhid.
Wa Allahu a’lambi ash-shawab.
Tri Wibowo BS ~ Ikhwan TQN.

Minggu, September 27, 2009

Indahnya Islam dalam hubungan Suami - Istri

Rumah tangga adalah suatu tatanan masyarakat terkecil, dan dari rumah tanggalah suatu tatanan masyarakat terbentuk. Keberhasilan suatu masyarakat atau kegagalannya dimulai dari keberhasilan dan kegagalan anggotanya dalam menjalankan roda kehidupan dalam rumah tangga. Dan sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa setiap rumah tangga minimal terdiri dari suami dan istri.

Oleh karena itu syari’at Al Qur’an memberikan perhatian besar kepada hubungan antara suami dan istrinya, sampai-sampai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjadikan baik dan buruknya hubungan seseorang dengan istrinya sebagai standar kepribadian seseorang,

“Sebaik-baik kalian ialah orang yang paling baik perilakunya terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian dalam memperlakukan istriku.” (HR. At Tirmizi dan dishahihkan oleh Al Albani)


Diantara syari’at Al Qur’an yang mengajarkan tentang metode hubungan suami istri yang baik ialah yang disebutkan dalam hadits berikut,

“Janganlah seorang lelaki mukmin membenci seorang mukminah (istrinya), bila ia membenci suatu perangai padanya, niscaya ia menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim)


Imam An Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan menyebutkan contoh nyata, beliau berkata, “Tidaklah layak bagi seorang mukmin (suami yang beriman) untuk membenci seorang mukminah (istrinya yang beriman), bila ia mendapatkan padanya suatu perangai yang ia benci, niscaya ia mendapatkan padanya perangai lainnya yang ia sukai, misalnya bila istrinya tesebut berakhlak pemarah, akan tetapi mungkin saja ia adalah wanita yang taat beragama, atau cantik, atau pandai menjaga kehormatan dirinya, atau sayang kepadanya atau yang serupa dengan itu.” (Syarah Muslim Oleh Imam An Nawawi 10/58).


Diantara wujud nyata keindahan syari’at Al Qur’an dalam membina rumah tangga, ialah diwajibkannya seorang suami untuk menunaikan tanggung jawabnya secara penuh, tanpa terkurangi sedikitpun. Mari kita bersama-sama merenungkan kisah berikut,

“Dari Wahb bin Jabr, ia menuturkan, Sesungguhnya salah seorang budak milik Abdullah bin Amr pernah berkata kepadanya, Sesungguhnya aku berencana untuk tinggal selama satu bulan ini di sini di Baitul Maqdis. Maka Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash bertanya kepadanya, Apakah engkau telah meninggalkan untuk keluargamu bekal yang dapat mereka makan selama satu bulan ini? Ia menjawab, Tidak. Abdullah bin Amr berkata kepadanya, Maka kembalilah ke keluargamu, lalu tinggalkan untuk mereka bekalnya, karena aku pernah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Cukuplah sebagi dosa seseorang (yang akan mencelakakannya-pen) bila ia menyia-nyiakan orang-orang yang wajib ia nafkahi.” (HR. Ahmad, dan Al Baihaqi dan hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim tanpa menyebutkan kisah sebelumnya)


Sebaliknya syari’at Al Qur’an juga mewajibkan atas kaum istri untuk senantiasa taat kepada suaminya, selama mereka tidak memerintahkannya dengan kemaksiatan. Agar kita dapat sedikit mengetahui betapa besar perhatian Islam dalam memerintahkan kaum istri untuk mentaati suaminya, maka marilah kita bersama-sama merenungkan dua hadits berikut,


“Seandainya aku diizinkan untuk memerintahkan seseorang agar bersujud kepada orang lain, niscaya aku akanperintahkan kaum istri untuk bersujud kepada suaminya.” (HR. Ahmad, At Tirmizi, dan Ibnu Majah)


Dan sabda beliau shollallahu ‘alaihi wasallam,


“Bila seorang wanita telah menunaikan sholat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga kesucian farjinya, dan mentaati suaminya, niscaya akan dikatakan kepadanya, Masuklah ke surga dari delapan pintu surga yang manapun yang engkau suka.” (HR Ahmad, Ibnu Hibban dan dishahihkan oleh Al Albani)


Pada hadits ini Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam memberikan suatu pelajaran penting kepada kaum istri agar hubungannya dengan suaminya bukan hanya di dasari oleh rasa cinta semata. Akan tetapi lebih dari itu semua, ketaatannya kepada suami adalah salah satu bagian dari ibadahnya, dan salah satu ibadah yang amat agung, sampai-sampai disejajarkan dengan sholat lima waktu, dan puasa bulan Ramadhan. Sehingga dengan cara demikian, ketaatan dan kesetiaan kaum istri akan kekal hingga akhir hayatnya, dan tidak mudah luntur oleh berbagai badai yang menerpa bahtera rumah tangganya.


Hal ini tentu berbeda dengan kaum istri yang hanya mengandalkan rasa cintanya, ia akan mudah terhanyutkan oleh godaan dan badai kehidupan, sehingga tatkala ia menghadapi kesusahan atau godaan setan walau hanya sedikit, dengan mudah tergoyahkan. Dari sini kita dapat mengetahui alasan mengapa banyak kaum istri yang dengan mudah melawan suaminya, tidak taat kepadanya, dan bahkan berbuat serong dengan pria lain. Ini semua karena rasa cintanya telah luntur, atau mulai luntur oleh godaan ketampanan, atau jabatan atau harta dan yang serupa.


Dari lain sisi, syari’at Al Qur’an juga membentengi kaum suami agar dapat tetap istiqomah menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga, yaitu dengan menjadikan segala tugas dan kewajibannya sebagai bagian dari ibadah kepada Allah, sehingga kesetiaannya dan kewajibannya tidak mudah luntur atau lengkang karena terpaan masa atau godaan hijaunya rumput tetangga atau kawan sejawat dll.


“Sesungguhnya bila engkau meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya, lebih baik daripada engkau meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan meminta-minta kepada orang lain. Dan sesungguhnya engkau tidaklah menafkahkan suatu nafkah yang engkau mengharap dengannya keridhaan Allah, melainkan engkau akan diberi pahala karenanya, sampaipun suapan makanan yang egkau suapkan ke mulut istrimu.” (Muttafaqun ‘alaih)


Dan lebih spesifik Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menjadikan hubungan sebadan dengan istri sebagai salah satu amal shalih, sebagaimana beliau tegaskan dalam sabdanya berikut ini,

“Dan hubungan sebadanmu dengan istrimu adalah sedekah. Para sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah salah seorang dari kita melampiaskan syahwatnya, kemudian ia dengannya mendapatkan pahala ? Beliau menjawab: bagaimana pendapat kalian, bila ia melampiaskan syahwatnya pada perbuatan yang haram, bukankah ia dengannya akan mendapatkan dosa? Demikian juga bila ia melampiaskannya pada tempat yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)


Imam An Nawawi menjelaskan hadits ini dengan berkata, “Pada hadits ini terdapat petunjuk bahwa perbuatan mubah akan menjadi amal ketaatan karena niat yang tulus. Hubungan sebadan akan menjadi ibadah bila pelakunya meniatkkan dengannya untuk memenuhi kebutuhan istri atau menggaulinya dengan cara-cara yang baik sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala, atau untuk mencari keturunan yang shalih atau untuk menjaga dirinya atau menjaga istrinya atau keduanya dari memandang kepada yang diharamkan atau memikirkannya atau menginginkannya atau untuk tujuan-tujuan baik lainnya.” (Syarah Muslim oleh Imam An Nawawi 7/92).


Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri

10 Keinginan Suami,....

Hal yang para suami inginkan dari istrinya terkadang adalah hal-hal sederhana. "Keinginan" disini adalah sesuatu yang Anda bisa berikan sebagai seorang istri, dan sesuatu yang wajar. Hal mendasar yang menjadi kebutuhan setiap orang adalah ingin dikasihi dan mencurahkan kasih; Ingin merasa di miliki dan memiliki. Semua itu bisa di wujudkan dalam hal-hal berikut:
1. Percaya pada kemampuannya
Hampir semua pria merasa penting untuk mereka bias melindungi dan mencukupi orang yang mereka cintai. Buat suami Anda tahu bahwa Anda percaya pada kemampuannya dan talenta yang dimilikinya untuk melindungi dan mencukupi Anda. Berilah dukungan sepenuh hati atas apa yang dikerjakannya.

2. Pengertian
Salah satu cara bagi Anda untuk menunjukkan kepada suami Anda bahwa Anda mau mengerti dirinya adalah dengan membuat komitmen untuk berdialog dengannya. Dialog rutin Anda hanya membutuhkan waktu 20 menit setiap hari. Bukankah suami Anda lebih berharga dari pada waktu 20 menit itu?

3. Pujian atas pencapaiannya
Siapapun suka menerima pujian, tidak terkecuali suami Anda. Sering-seringlah puji suami Anda atas pencapaian yang dia buat. Puji kebaikannya, puji karakternya, percayalah hal itu akan membuat kehidupan suami Anda jauh berbeda.



4. Penerimaan
Banyak suami menjadi terluka dan marah ketika istrinya berusaha mengubahnya. Sadarilah bahwa tidak ada siapapun yang bisa Anda ubah selain diri Anda sendiri. Terimalah dirinya apa adanya, hal itu akan sangat berarti bagi suami Anda.

5. Kurangi perbincangan
Saat suami Anda sedang lelah, sibuk karena pekerjaannya tetapi Anda ingin membicarakan sesuatu padanya, buat hal itu singkat. Jika dia ingin mengetahu detail tentang hal itu, dia pasti akan meminta Anda menjelaskannya pada Anda.

6. Kasih sayang
Gandeng tangan suami Anda di muka umum, buatlah sebuah surat cinta untuknya, pijat bahunya, berikan sebuah ciuman kejutan untuknya. Pria suka romantisme juga.

7. Rasa hormat
Tunjukkan rasa hormat Anda pada suami Anda dengan tidak membuat komentar negatif tentang pemikirannya atau pendapatnya. Hargailah rencana yang dia buat, dan bicarakan dengan baik masukan Anda tentang rencana tersebut. Jangan tunjukkan bahasa tubuh yang meremehkannya saat Anda mendengarkan dia bicara. Dia ingin Anda menghormatinya.

8. Waktu luang
Hampir semua orang menginginkan memiliki waktu untuk sendiri selama beberapa saat, dan mengisi kembali energi, berpikir ulang atas banyak hal dan juga untuk berhubungan dengan Tuhan secara pribadi. Ketika suami Anda baru pulang dari kerja, ijinkan dia untuk memiliki waktu luang tersebut. Jangan penuhi jadwalnya untuk melakukan berbagai hal di rumah.

9. Kepercayaan
Kepercayaan adalah kunci keberhasilan pernikahan. Jika Anda memiliki keraguan terhadap suami Anda dan menemukan bahwa Anda sulit mempercayainya, temuilah seorang konselor pernikahan dan bukannya mencari seorang detektif untuk memata-matainya.

10. Menjadi seorang teman
Saya harap Anda bisa mengatakan bahwa suami Anda bukan hanya pasangan hidup Anda, tetapi juga teman Anda. Menjadi seorang teman atau sahabat adalah sesuatu yang penting untuk menjalani tahun-tahun yang harus Anda habiskan bersama.

Selamat mencoba dan menjadi Istri2 yang benar2 di cintai Suaminya bagi yang belum bersuami jadikan ilmu untuk persiapan jika nanti sudah bersuami,.....

Sabtu, September 26, 2009

Pemikiran Dasar Tentang Rizki

Mari kita gali lagi kearifan leluhur seperti yang tersirat dalam pepatah Jawa berikut :

1.a. Nrimo ing pandum. Kita harus meyakini bahwa Allah maha kuasa pembagi rizki. Apapun yang kita terima, secara hakekat sudah DIA tentukan. Lewat mana rizki datang, lewat keringat sendiri atau keringat orang, itu sekedar syariat.

1.b. Ojo Kagetan, Ojo Gumuman, Ojo Dumeh. Kita harus memahami bahwa setiap rizki merupakan ujian apakah kita bisa sabar dan bersyukur.
- Rizki bersifat naik turun, namun jiwa harus tetap tenang baik ketika rizki mendadak terjun bebas atau sebaliknya menanjak ke puncak.
- Rizki setiap orang selalu berbeda. The grass is always greener on the other side of the fence! Namun pikiran harus tetap berprasangka baik kepada Sang pemberi maupun orang tersebut.
- Rizki ini bukan milik kita tapi titipan Allah, sehingga kita harus rendah hati dan bijaksana dalam membaginya.

Pemikiran dasar tentang kerja dan usaha:

2.a. Urip iku Urup. Kita harus menyadari bahwa kita hadir di bumi untuk menjadi obor peradaban. Setiap pekerjaan atau usaha yang kita lakukan harus didasari niat menjadi karunia buat sesama, bukan mencari rizki karena rizki sudah dijamin Allah. Kita harus merasa malu ketika bertopang dagu apalagi menjadi benalu.

2.b. Sepi Ing Pamrih, Rame Ing Gawe. Kita harus mengamalkan asas bahwa setiap tindakan harus menjadi pengabdian bagi Allah. Sehingga kegagalan tetap berarti kebahagiaan karena pahala tetap menanti di surga. Dan keberhasilan berarti kebahagiaan berganda, bahagia di dunia ditambah bahagia di surga. Tidak ada kata kecewa.

Jadi sepengertian saya meski Rizki dan usaha / kerja saling berkaitan, sebaiknya tidak dicampuradukkan.

Dan tanpa menafikan keyakinan saya sendiri, sepengetahuan saya sebetulnya seluruh abrahamic religions (Yahudi, Kristen, Islam) maupun dharmic religions (Hindu, Budha, Zoroastrian) mempunyai sedikit banyak pemikiran yang serupa dalam hal ini. Namun jarang pemeluknya memahami dan meyakini, apalagi mengamalkannya.

Kamis, September 24, 2009

Fenomena Pendidikan Agama Islam

Assalamualaikum,......

fenomena mengandung arti persamaan kata dengan gejala,fakta,kenyataan modern,atau bisa juga diartikan terbaru atau sikap dan cara berfikir bertindak sesuai dengan tuntutan Zaman,............

Sedangkan Pendidikan Islam adalah metode pengajaran dan pengembangan agama Islam yang menggunakan cara yang terus berkembang dan terbarukan dengan mengikuti Fenomena yang berkembang,sehingga memerlukan Inovasi dalam tatacara pengajaran dan pembelajaran terhadap siswa atau generasi muda tanpa mengurangi esensi Islam yang terkadung di dalamnya,

Dikalangan masyarakat Indonesia akhir-akhir ini, istilah “Pendidikan” mendapatkan arti yang sangat luas. kata-kata pendidikan, pengajaran, bimbingan dan pelatihan, sebagai istilah-istilah tekhnis tidak lagi dibeda-bedakan oleh masyarakat kita, tetapi ketiga-tiganya melebur menjadi satu pengertian baru tentang pendidikan,..

Pengertian pendidikan bahkan lebih diperluas cakupanya sebagai aktifitas dan fenomena. Pendidikan sebagai aktifitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan pandangan hidup (bagaimana orang akan menjalani dan memanfaatkan hidup dan kehidupanya), sikap hidup, dan keterampilan hidup, baik yang bersifat manual (petunjuk praktis) maupun mental dan sosial.

Sedagkan pendidikan sebagai fenomena adalah perstiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak.dalam konteks pendidikan Islam, berarti pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup tersebut harus bernafaskan atau dijiwai oleh ajaran dan nilai-nilai Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah/Al-Hadits.

Pendidikan Agama Islam adalah adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan dengan memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan persatuan nasional.

Tujuan Pendidikan Agama Islam secara umum bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

Salahsatu contoh fenomena pendidikan agama Islam dalam waktu dekat ini adalah Pesantren Kilat yang selalu diadakan pada bulan Ramadhan,
Sekilas, sebagian masyarakat cenderung beranggapan bahwa mengajari, melatih, meningkatkan, dan memperdalam pengetahuan tentang Islam di kalangan generasi muda khususnya pada bulan Ramadhan,adalah inovasi pendidikan yang amat positif. Sesuai dengan misinya sebagaimana acapkali kita baca di media massa, banyak kalangan meyakini bahwa pesantren kilat akan membekali siswa dengan pengetahuan yang memadai tentang Islam, meningkatkan kesadaran Islam pada diri mereka, dan membiasakan mereka dengan perilaku islami (akhlakul karimah).

Dalam hal ini, pesantren kilat dipandang seiring sejalan dengan implementasi pendidikan islam, Tidak salah jika kemudian sekolah-sekolah pun seolah berlomba-lomba melaksanakan program ini dengan berbagai model dan kegiatan. Saat ini, pelaksanaan kegiatan ini menjadi salah satu media pencitraan sekolah favorit, unggul, dan islami.

Islam merupakan pendidikan holistik dan komprehensif, mencakup hubungan vertikal-horizontal, seluas kehidupan, sepanjang masa, dan se-kompleks persoalan manusia. Pendidikan Islam, sama halnya dengan Islam, tidak dibatasi oleh dikotomi dunia-akhirat, sekuler-religius, personal-sosial, lokal-regional, apalagi oleh sekat-sekat disiplin ilmu pengetahuan.

Pendidikan Islam menganut integrasi dan interkoneksi ilmu pengetahuan. Seluruh ilmu pengetahuan adalah wahana memahami dan melaksanakan semua parameter Al Quran dalam proses pembentukan kepribadian muslim melalui paradigma Islam. Kepribadian yang dalam istilah Qur’ani memiliki kualitas takwa (keseimbangan hubungan konstruktif dengan diri sendiri, Tuhan, sesama manusia, dan alam).

Wallahu 'alamubissawab

Sabtu, September 19, 2009

Selamat 'Idul Fitri


Ufuk Senja menua, Ramadhan meninggalkan kita, masihkah ada nyawa bersama raga di Ramadhan yang nanti kan tiba? Rasa tak pantas mendapat kemuliaan Syawal, karena banyak yang tersia sia... dan agar tak makin hancur semua amal buruk hamba, maafkan manusia penuh dosa dan sarat salah ini. Lahir dan batin. Semoga mendapat kemenangan yang dijanjikan Allah Sang Maha Pengampun. Ied Mubarak 1430 H

Jumat, September 18, 2009

Memotivasi Diri,.....

pertanyaan :
gimana ya mas caranya kita supaya bisa memotivasi diri untuk tidak mudah menyerah atas ibadah yang kita lakukan
kita kan manusia yang biasanya gampang sekali menyerah atao marah apabila ada doa kita yang belum di ijabah,

Assalamualaikum.wr.wb.

ini mungkin sedikit jawaban ................. yang terhormat mudah2an pertannyan mba bisa terjawab dengen kisah di bawah ini :

Pada suatu hari, ada seorang wanita sedang mengajar keponakannya. Sang keponakan biasanya menyimak apa yang diajarkan bibinya, tetapi kali ini dia tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Ternyata salah satu kelerengnya hilang.

Tiba-tiba anak itu berkata: "Bi, bolehkan aku berlutut dan meminta Allah untuk menemukan kelerengku?".
Ketika bibinya mengizinkan, anak itu berlutut di kursinya, menutup matanya dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Kemudian dia bangkit dan melanjutkan pelajaran.

Keesokan harinya, bibinya yang takut doa keponakannya tidak terjawab dan (dengan demikian melemahkan imannya, ...) dengan khawatir bertanya:
"Sayang, apakah engkau sudah menemukan kelerengmu?".
"Tidak Bi", jawab anak itu, "tetapi Allah telah membuatku tidak menginginkan kelereng itu lagi".

Alangkah indahnya iman anak itu. Terkadang kita sering berburuk sangka pada Nya karena do'a kita yang tidak terkabulkan oleh Nya. Tapi yakinlah Tuhan mendengarkan do'a kita dan pasti akan mengabulkannya.
Contoh misalkan, ada anak berusia 5 (lima) tahun, tapi dia merengek-rengek minta diberikan uang Rp 100,000.00 untuk jajan di warung, apakah kita sebagai orang tua akan langsung mengabulkan permintaan anak itu?? Tentu tidak bukan. Karena uang Rp 100,000.00 untuk anak seusianya terlalu besar, dan terlalu banyak uang sejumlah itu bila hanya untuk jajan di warung. Begitu pula halnya dengan Allah, Tuhan yang Maha Segalanya. Dia pasti tahu apa yang terbaik bagi kita umat Nya, dan apa yang harus ditangguhkan dulu pemberiannya. Dan Insya Allah ada hikmah dibalik semua kejadian yang ada di dalam hidup ini (bila kita menyadarinya). Karena apa yang terlihat baik buat kita, belum tentu baik menurut Nya.

Terkadang memang terjadi sedikit kerancuan antara Do'a dan keinginan kita. Keinginan kita, yang kita manifestasikan dalam bentuk do'a kepada Tuhan... itu BELUM PASTI DIKABULKAN sesuai dengan keinginan kita tersebut. Karena apa? Karena Tuhan mempunyai cara sendiri tentang bagaimana Dia "menyikapi" do'a-do'a dari para manusia ini. Ada 3 (tiga) cara berbeda dalam mengabulkan do'a kita.

1. Do'a yang dikabulkan langsung
Ini adalah do'anya para Nabi dan Rasul. Setiap Nabi dan Rasul itu diberikan "fasilitas khusus" oleh Allah dengan segera mengabulkan do'a yang dimintakan kepada-Nya, karena Dia menilai para Nabi dan Rasul itu benar-benar mempunyai pikiran dan hati nurani yang suci dibandingkan dengan manusia biasa seperti kita ini. Oleh sebab itu setiap do'a Nabi maupun Rasul, pasti akan langsung dikabulkan-Nya persis sesuai dengan isi do'anya. Do'a seperti ini "bukan fasilitas buat kita", karena jika kita sebagai manusia biasa diberikan fasilitas khusus seperti ini...wah bisa sangat membahayakan seluruh umat manusia. Kita bisa "seenaknya saja" meminta sesuatu kepada Tuhan. Benar kan??

2. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi digantikan dengan yang lebih baik:
Inilah fasilitas do'a bagi kita manusia biasa. Ingatlah bahwa apa yang kelihatan baik buat kita, mungkin belum tentu baik menurut Nya. Allah jelas lebih tahu segala sesuatu yang lebih baik dan bermanfaat bagi kita. Oleh sebab itu, do'a yang kita panjatkan kepada Nya, kadangkala digantikan oleh-Nya dengan yang lebih baik bagi kita yang berdo'a. Misalnya, mungkin saja Anda berdo'a meminta rejeki materi yang banyak, ternyata do'a Anda itu digantikan-Nya dengan cara menyelamatkan "nyawa" Anda dari sebuah kecelakaan maut, sehingga Anda tetap segar bugar dan sehat sampai sekarang ini. Do'a Anda tetap dikabulkan, tetapi itu digantikan oleh Allah dengan yang lebih baik untuk kehidupan Anda.
Ingatlah untuk selalu berpositif "thinking" pada Nya.

3. Do'a yang dikabulkan-Nya, tapi masih digantungkan:
Do'a yang seperti ini juga merupakan fasilitas bagi kita. Setiap permohonan kita kepada Nya lewat do'a pasti dikabulkan. Allah sudah memberikan hasil do'a kita. Dalam hal ini, hasil do'a kita tersebut tidak langsung diberikan ke kita, tetapi masih "digantungkan di atas" kita. Manusia yang berdo'a diberikan "tugas dan kewajiban" untuk meraih hasil do'anya yang masih tergantung tersebut. Dengan kalimat lain, jika Anda berdo'a memohon rezeki materi, makaDia sudah mengabulkan do'a Anda, tetapi Dia meletakkan hasil do'a itu (rezeki materi) "di atas" Anda, sehingga Anda harus punya daya upaya sekuat tenaga untuk mengambilnya. Anda harus berjuang untuk benar-benar meraih hasil do'a yang telah ada di atas Anda itu. Itulah tugas dan kewajiban Anda. Kalau Anda sudah mau menunaikan tugas dan kewajiban Anda ini, maka barulah Anda bisa benar-benar menikmati hasil do'a Anda itu di dalam kehidupan Anda.

Memang terkadang Allah mengabulkan do'a kita dengan cara yang tidak kita mengerti sebagai seorang makhluk yang lemah, tapi yakinlah bahwa Dia pasti mengabulkan do'a kita. Yang terpenting adalah selalu ingatlah Dia, jangan hanya mengingat Nya ketika kita memerlukan kehadiran Nya saja. Padahal Dia selalu ada di setiap hela nafas yang kita hirup setiap detiknya. Bersikaplah adil kepada Nya. Bila kita ingin diperhatikan Nya, maka "perhatikan" lah dia di setiap detik kehidupan yang telah diberikan Nya untuk kita. Jangan melupakan Nya walau sedetikpun.

Demikian dari saya Mba mohon ma'af apabila banyak ke kurangan
Wallahu 'alamu bissawab,.....

Wasalamualaikum.wr.wb

Rabu, September 16, 2009

Jangan takut menghadapi hidup

Situasi sekarang ini memang sulit. Uang sulit dicari. Biaya hidup bertambah sementara pendapatan malah tetap dan cenderung menyusut nilainya. Sebentar lagi Lebaran dan mungkin akan semakin banyak orang yang gelap mata menghalalkan segala cara untuk merayakannya.

Meski sulit, tidak semestinya kita sebagai manusia harus kalah pada hidup. Tidak selayaknya kita menyerah pada kesulitan hidup. Tiap orang punya kesulitan hidup masing-masing. Orang miskin merasa sulit karena tidak punya uang berlebih. Sudah berusaha dan bekerja keras namun tetap miskin. Iri pada orang kaya yang semakin kaya. Berusaha sedikit menghasilkan kekayaan, sementara si miskin sudah matimatian membanting tulang namun tetap hidup kekurangan.

Jangan sangka orang yang kaya harta tidak memiliki kesulitan. Banyak orang kaya yang memiliki kesulitan hidup karena terjerat hutang, karena dapat musibah kebakaran, karena tiba-tiba keluarganya tersangkut kasus korupsi, karena sakit, karena kecelakaan dan ada banyak kesulitan hidup yang lain.

Kesulitan hidup itu soal persepsi, soal cara pandang kita dalam menyikapi hidup. Jika kita memandang hidup kita ini sulit, dunia akan menjadi sempit. Akal jadi pendek dan kemampuan akan terbatas. Berusaha ini salah, berusaha itu salah. Keluar dari satu kesulitan malah menuai kesulitan disisi lain.

Ubahlah cara pandang itu. Jangan iri hati pada orang lain karena iri itu sumber bencana dan sumber penyakit. Jika orang lain senang dan makmur, kita boleh kepingin tapi janganlah iri dan dengki. Doakan agar orang tersebut mendapat berkah dari kesenangan dan kemakmurannya dan semoga kita mendapat kebahagiaan dengan bentuk dan cara kita sendiri.

Jangan pernah merasa miskin dalam hidup. Jika anda sekarang hidup dari hutang yang satu ke hutang yang lain, dari tagihan kartu kredit yang satu ke kartu kredit yang lain, janganlah pernah putus asa dalam upaya menyikapi kesulitan hidup. Jika anda sekarang merasa miskin semiskin-miskinnya, inilah saat anda untuk memantul, untuk berbalik. Jika anda sudah merasa berada pada dasar kemiskinan karena harta anda hanya cukup (atau bahkan kurang) membayar hutang yang ada, inilah saat bagi anda untuk bangkit.

Jangan merasa segala upaya yang sudah pernah anda lakukan sebagai sesuatu yang sia-sia. Pengalaman adalah harta yang tak pernah hilang. Jika anda pernah ditipu orang lain dalam usaha sehingga usaha anda bangkrut dan anda terlilit hutang piutang dan dikejar debt collector, jadikan pengalaman itu sebagai penguat. Hambatan yang tidak membuat anda mati adalah penguat vitalitas anda.

Jangan pernah menyesali setiap usaha untuk kesuksesan dan kebahagiaan hidup. Gagal sekali itu soal biasa. Gagal berkali-kali juga bukan sesuatu yang luar biasa. Ingatlah selalu, bisa jadi gagal yang ada merupakan cara anda menghargai keberhasilan.

Jika kita memiliki kepandaian dan kemampuan, jika kita yakin pada kemampuan diri sendiri, mengapa kita harus takut tidak bisa mencari makan. Belajarlah dari binatang liar, mereka tidak tahu apakah dapat atau tidak makan siang hari ini namun mereka akan selalu berusaha.

Ada orang yang sampai mati dalam usahanya mempertahankan hidup. Jika itu yang terjadi, matilah dalam keadaan yang terhormat. Matilah dalam senyum karena kita sudah berusaha semaksimal mungkin.

Jika keluarga berantakan, mengapa harus menghabiskan hari-hari untuk menyesalinya. Orang yang sukses dari keluarga baik-baik, terawat dan terjamin tidaklah istimewa. Jika anda sukses meski dari keluarga berantakan, orang akan melihat bahwa anda memang sukses karena kemampuan.

Hilangkan gengsi jika anda merasa gengsi itu menghalangi anda menikmati hidup. Saya jauh lebih menghargai ibu-ibu bakul sayur yang bangun jam 3 pagi untuk belanja dan menjajakan sayur dipasar, meski hasil dan keuntungannya hanya sekian ribu atau sekian puluh ribu rupiah. Ibu-ibu bakul sayur itu memiliki keberanian hidup, bahwa hidup ini harus diperjuangkan bukan sekedar disesali.

Jika anda menyesal mengapa lahir sebagai orang miskin dan bukan sebagai cinderella, anda akan menjadi miskin segala-galanya. Jika anda menyesali kelahiran anda karena orang tua anda bukan orang terkenal atau orang tua anda hanya seorang buruh atau orang tua anda hanya pelacur, anda akan selalu kesulitan sepanjang hidup.

Kelahiran adalah takdir dan ada rencana yang maha kuasa dibalik itu semua. Tak usah menyesali kelahiran, tak usah menyesali keadaan. Jika orang tua anda hanya sanggup menyekolahkan sampai SMA, itu adalah bekal yang baik untuk memulai hidup anda.

Jika sekarang anda menjadi pekerja kasar atau sebagai buruh pabrik atau bekerja sebagai pembantu rumah tangga atau menjadi TKW , berupayalah menimba ilmu dan pendidikan. Lebih baik capek diawal namun memetik hasil akhir yang manis diakhir. Jika anda merasa capek menjalaninya, ingatlah, bahkan untuk kesehatan dan kesenanganpun orang kadang mencari rasa capek.

Jika uang disaku hanya tinggal beberapa rupiah, pandanglah bahwa itu menjadi kekayaan awal yang akan anda tingkatkan. Menjadi modal dasar yang akan membuat anda sukses.

Banyak orang salah kaprah soal prinsip "nrimo" dengan mengasosiasikannya sebagai sikap "nrimo apa adanya". Sesungguhnya tidak demikian.

Jika kita memiliki kesulitan hidup, lakukanlah segala upaya positif untuk menaklukannya. Lakukan upaya, jangan lupa berdoa dan diakhir, barulah kita nrimo atas sikap dan upaya kita. Jangan marah, jangan jengkel dan jangan mengecam jika hasil yang ada berbeda dengan hasil yang diinginkan. Mungkin ada skenario lain dari yang maha kuasa terhadap hasil yang anda dapatkan.

Jangan pernah takut menghadapi kesulitan hidup. Tetaplah tersenyum apapun hasil dari usaha dan doa yang sudah dilakukan. Orang tidak akan menderita selama-lamanya jika dia mau berusaha dan berdoa.

Berusaha atau tidak, susah senang kita juga yang menjalaninya.

Selasa, September 15, 2009

Ada apa setelah Ramadhan?

Assalamualaikum,wr.wb.
Saudara dan sahabatku ini adalah sepercik renungan guna muhasabah diri kita pada akhir2 bulan yang di berkahi ini

Ramadhan
sebentar lagi pergi meninggalkan kita..Bulan yang penuh dengan berbagai macam kebaikan..
Semoga Allah menerima amal kebaikan kita dan menjadikan kita istiqamah sampai berjumpa denganNya, amiiin..Entah, kita bisa bertemu lagi dengan Ramadhan tahun depan atau tidak ?..Wallahu 'A'lam.

Namun,
walaupun Ramadhan telah pergi akan tetapi amal seorang mukmin tidak terputus begitu saja sehingga datang padanya kematian. Allah Ta'ala berfirman:
Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).  (QS. Al-Hijr: 99).

Apabila puasa Ramadhan telah meninggalkan kita maka ibadah puasa yang lain tetap disyari'atkan sepanjang tahun:

Abu Sa'id Al-Khudri Radhiallahu 'Anhu meriwayatkan, bahwsanya Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam bersabda: Barangsiapa puasa Ramadhan kemudian mengikutinya dengan (puasa) enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu laksana puasa setahun. (HR. Muslim).

Dari Abu Hurairah Radhiallahu Anhu berkata: Kekasihku Shallalahu Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam mewasiatkan kepadaku dengan tiga perkara:
Puasa Tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua raka'at dan supaya aku shalat witir sebelum tidur.
(HR. Bukhari dan Muslim).

Memasuki dihari-hari terakhir bulan Ramadhan pada tahun ini ,masing-masing dari kita sibuk dengan menghitung hari demi hari


Di pikiran kita masing-masing yang timbul justru pikiran tentang :

" Berapa banyak uang yang sudah aku dapatkan untuk persiapan hari raya tahun ni ??

" Baju warna dan model apa yang aku akan pakai pada hari raya pertama…kedua…ketiga..dan
  seterusnya…??

" Hendak Jalan-jalan kemana Hari raya tahun ini

" Kendaraan yang mana yang akan kita pakai untuk mudik,pulang kampung dan untuk silaturahmi

" Dan sebagainya lebih banyak lagi pikiran2 yang justru lebih sibuk dari urusan kita yang sesungguhnya   tidak lebih penting dari pada makna Ramadhan dan hari Raya itu sendiri

Itulah hakikat yang terjadi pada diri kita setiap tahunnya, Setiap kali masuk bulan Ramadhan,justru kita lebih sibuk mempersiapan untuk berhari Raya bukan untuk membuat muhasabah diri dan perubahan pada diri kita masing-masing.

Hasilnya, Ramadhan kelihatan begitu hampa dan tidak begitu bermakna buat diri kita masing-masing.

Benar apa yang telah Rasulullah SAW sabdakan :

" Begitu banyak orang yang berpuasa, tapi mereka tidak mendapatkan apa-apa kecuali hanyalah lapar dan dahaga "

(Riwayat An Nasa'i & Ibnu Majah)

Pernahkah kita berfikir betapa sakitnya kita berlapar dan dahaga pada siang hari tapi kita termasuk dalam kategori orang yang Rasulullah maksudkan ??

Tentu kita merasa marah jika kita bekerja sebulan penuh tetapi bila tiba akhir bulan kita tidak mendapatkan sepeserpun gaji dari perusahaan. Begitulah ibaratnya orang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar belaka.

Akhirnya, apa yang kita lihat, bulan ramadhan tidak memberikan kesan apa-apa  pada setiap orang yang berpuasa. Setelah selesai dari Ramadhan kehidupannya tetap sama, bahkan ada yang lebih buruk lagi daripada sebelum bulan Ramadhan.. Na'uzubillah min dzalik

Apa yang menyedihkan lagi, Hari Raya yang sepatutnya dirayakan dengan penuh rasa syukur dan pujian terahadap Allah Azza Wa Jalla telah dihiasi dengan berbagai macam maksiat...lagu dan musik Hari Raya lebih penting dari mengingat dan berzikir kepada Allah, halal dan haram tidak lagi diindahkan dan di Perhitungkan..pakaian dijadikan satu perlombaan, siapa yang paling mahal…siapa yang paling cantik….dan siapa yang paling seksi…yang paling penting adalah MERIAH.

Kita lupa siapa diri kita, padahal baru diberikan kenikmatan yang sangat sedikit…
kita lupa kepada saudara kita yang dalam kesusahan…
kita lupa bahawa kanikmatan yang kita dapat ini hanyalah bersifat sementara…
Kita lupa bahawa kita ini hanyalah seorang hamba…
kita lupa bahwa kita akan mati suatu hari nanti…
dan kita juga lupa bahawa semua akan dipertanggungjawabkan dengan apa yang kita telah lakukan….Memang KITA MUDAH LUPA DAN MELUPAKAN….

Marilah kita muhasabah diri kita masing-masing,
Apakah puasa kita Ramadhan tahun ini  di terima dan di Ridhoi oleh Allah ?
Apakah amalan-amalan sunah tambahan yang telah kita lakukan dalam bulan ini ?
Adakah perubahan sikap yang telah kita lakukan ?
Dapatkah kita melatih diri kita untuk menjadi orang yang sentiasa bersyukur dan sabar ?
Dapatkah kita membuang sifat-sifat Buruk yang ada pada diri kita ?.......

Adakah sama saja ? atau ada peningkatan ? atau lebih buruk lagi ?

Pertanyaan ini harus ada jawabannya….

Jika sama saja,rugilah kita...
Jika ada peningkatan cobalah untuk jadi orang yang istiqomah,
Jika lebih buruk lagi, maka bertaubat kepada Allah dan cobalah untuk perbaiki diri.

Demikian saudaraku marilah kita Muhasabah ( Koreksi Diri ) kita masing2 dengan tujuan meningkatkan keimanan kita kepada Allah Azza Wa Jalla, Ramadhan sebentar lagi meninggalkan kita mari kita manfaatkan detik2 akhir ini untuk labih mendekatkan diri kita kepada Rabb kita
akhirnya mudah2an kita di berikan limpahan Ridha dariNya Amiiin ya Rabbal 'alamin

Kamis, September 10, 2009

Ciri-ciri Lailatul Qodr

Dinamakan lailatul qodr karena pada malam itu malaikat diperintahkan oleh Allah swt untuk menuliskan ketetapan tentang kebaikan, rezeki dan keberkahan di tahun ini, sebagaimana firman Allah swt :

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ ﴿٤﴾
أَمْرًا مِّنْ عِندِنَا إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ ﴿٥﴾


Artinya : ”Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul.” (QS. Ad Dukhan : 3 – 5)

Al Qurthubi mengatakan bahwa pada malam itu pula para malaikat turun dari setiap langit dan dari sidrotul muntaha ke bumi dan mengaminkan doa-doa yang diucapkan manusia hingga terbit fajar. Para malaikat dan jibril as turun dengan membawa rahmat atas perintah Allah swt juga membawa setiap urusan yang telah ditentukan dan ditetapkan Allah di tahun itu hingga yang akan datang. Lailatul Qodr adalah malam kesejahteraan dan kebaikan seluruhnya tanpa ada keburukan hingga terbit fajar, sebagaimana firman-Nya :

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ ﴿٤﴾
سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ﴿٥﴾


Artinya : ”Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS. Al Qodr : 4 – 5)

Diantara hadits-hadits yang menceritakan tentang tanda-tanda lailatul qodr adalah :

1. Sabda Rasulullah saw,”Lailatul qodr adalah malam yang cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari pada hari itu bersinar kemerahan lemah.” Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah yang dishahihkan oleh Al Bani.

2. Sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qodr lalu aku dilupakan, ia ada di sepuluh malam terakhir. Malam itu cerah, tidak panas dan tidak dingin bagaikan bulan menyingkap bintang-bintang. Tidaklah keluar setannya hingga terbit fajarnya.” (HR. Ibnu Hibban)

3. Rasulullah saw bersabda,”Sesungguhnya para malaikat pada malam itu lebih banyak turun ke bumi daripada jumlah pepasiran.” (HR. Ibnu Khuzaimah yang sanadnya dihasankan oleh Al Bani)

4. Rasulullah saw berabda,”Tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya cerah tanpa sinar.” (HR. Muslim)

Terkait dengan berbagai tanda-tanda Lailatul Qodr yang disebutkan beberapa hadits, Syeikh Yusuf al Qaradhawi mengatakan,”Semua tanda tersebut tidak dapat memberikan keyakinan tentangnya dan tidak dapat memberikan keyakinan yakni bila tanda-tanda itu tidak ada berarti Lailatul Qodr tidak terjadi malam itu, karena lailatul qodr terjadi di negeri-negeri yang iklim, musim, dan cuacanya berbeda-beda. Bisa jadi ada diantara negeri-negeri muslim dengan keadaan yang tak pernah putus-putusnya turun hujan, padahal penduduk di daerah lain justru melaksanakan shalat istisqo’. Negeri-negeri itu berbeda dalam hal panas dan dingin, muncul dan tenggelamnya matahari, juga kuat dan lemahnya sinarnya. Karena itu sangat tidak mungkin bila tanda-tanda itu sama di seluruh belahan bumi ini. (Fiqih Puasa hal 177 – 178)

Perbedaan Waktu Antar Negara

Lailatul qodr merupakan rahasia Allah swt. Untuk itu dianjurkan agar setiap muslim mencarinya di sepuluh malam terakhir, sebagaimana sabda Rasulullah saw,”Carilah dia (lailatul qodr) pada sepuluh malam terakhir di malam-malam ganjil.” (HR. Bukhori Muslim).

Dari Abu Said bahwa Nabi saw menemui mereka pada pagi kedua puluh, lalu beliau berkhotbah. Dalam khutbahnya beliau saw bersabda,”Sungguh aku diperlihatkan Lailatul qodr, kemudian aku dilupakan—atau lupa—maka carilah ia di sepuluh malam terakhir, pada malam-malam ganjil.” (Muttafaq Alaihi)

Pencarian lebih ditekankan pada tujuh malam terakhir bulan Ramadhan sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari Ibnu Umar bahwa beberapa orang dari sahabat Rasulullah saw bermimpi tentang Lailatul Qodr di tujuh malam terakhir. Menanggapi mimpi itu, Rasulullah saw bersabda,”Aku melihat mimpi kalian bertemu pada tujuh malam terakhir. Karena itu barangsiapa hendak mencarinya maka hendaklah ia mencari pada tujuh malam terakhir.”

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah saw bersabda,”Carilah ia di sepuluh malam terakhir. Jika salah seorang kalian lemah atau tdak mampu maka janganlah ia dikalahkan di tujuh malam terakhir.” (HR. Muslim, Ahmad dan Ath Thayalisi)

Malam-malam ganjil yang dimaksud dalam hadits diatas adalah malam ke- 21, 23, 25, 27 dan 29. Bila masuknya Ramadhan berbeda-beda dari berbagai negara—sebagaimana sering kita saksikan—maka malam-malam ganjil di beberapa negara menjadi melam-malam genap di sebagian negara lainnya sehingga untuk lebih berhati-hati maka carilah Lailatul Qodr di setiap malam pada sepuluh malam terakhir. Begitu pula dengan daerah-daerah yang hanya berbeda jamnya saja maka ia pun tidak akan terlewatkan dari lailatul qodr karena lailatul qodr ini bersifat umum mengenai semua negeri dan terjadi sepanjang malam hingga terbit fajar di setiap negeri-negeri itu.

Karena tidak ada yang mengetahui kapan jatuhnya lailatul qodr itu kecuali Allah swt maka cara yang terbaik untuk menggapainya adalah beritikaf di sepuluh malam terakhir sebagaimana pernah dilakukan oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya.

Ciri-ciri Orang Yang Mendapatkan Lailatul Qodr

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dai Abu Hurairoh bahwa Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa melakukan qiyam lailatul qodr dengan penuh keimanan dan pengharapan (maka) dosa-dosanya yang telah lalu diampuni.”

Juga doa yang diajarkan Rasulullah saw saat menjumpai lailatul qodr adalah ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi Maaf, Engkau mencintai pemaafan karena itu berikanlah maaf kepadaku.” (HR. Ibnu Majah)

Dari kedua hadits tersebut menunjukkan bahwa dianjurkan bagi setiap yang menginginkan lailatul qodr agar menghidupkan malam itu dengan berbagai ibadah, seperti : shalat malam, tilawah Al Qur’an, dzikir, doa dan amal-amal shaleh lainnya. Dan orang yang menghidupkan malam itu dengan amal-amal ibadah akan merasakan ketenangan hati, kelapangan dada dan kelezatan dalam ibadahnya itu karena semua itu dilakukan dengan penuh keimanan dan mengharapkan ridho Allah swt.

Wallahu A’lam



Rabu, September 09, 2009

PERINGATAN

PERINGATAN..!
keras selama Ramadhan,










dilarang tidur sambil TELENTANG !!
bener loch!


ngga" boleh TELENTANG!
soalna……



TELEN_KOIN jha bisa mati!


apa lagi....................................





TELEN_TANG!?

MATI BAGAI KELEDAI

Hikmah Ramadhan

Kisah ini terjadi di Universitas ‘Ain Syams, fakultas pertanian di Mesir. Sebuah kisah yang sangat masyhur dan di eksposs oleh berbagai media massa lokal.

Di sebuah halaman salah satu fakultas di Mesir, berdiri seorang mahasiswa sembari memegang jam tangan dan membelalakkan mata ke arahnya, ia seorang yang –konon- berpikiran liberal bahkan cenderung atheis. Sambil melihat jam-nya ia berteriak lantang, “Jika memang Allah ada, maka silahkan cabut nyawa saya satu jam dari sekarang!.” Ini merupakan kejadian langka yang disaksikan oleh mayoritas mahasiswa dan dosen di kampus tersebut. Menit demi menit berjalan dengan cepat, hingga tibalah menit ke-enampuluh alias satu jam dari ucapan sang mahasiswa tersebut. Mengetahui belum ada gejala apa-apa dari ucapannya, ia berkacak pinggang, penuh dengan kesombongan dan tantangan sembari berkata kepada rekan-rekannya, “Bagaimana pendapat kalian, bukankah jika memang Allah ada, sudah pasti Dia mencabut nyawa saya?.”. tidak banyak orang yang berkomentar atas tindakan lancang mahasiswa tersebut, malah banyak yang hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Sementara seperti biasa, ia pulang ke rumahnya dengan penuh keceriaan, berjalan dengan angkuh seakan telah membuktikan dengan dalil ‘aqly (Pemikiran) yang belum pernah dilakukan oleh siapapun sebelumnya, bahwa Allah benar tidak ada dan manusia diciptakan tanpa skenario dan maksud apapun. Dia masuk rumah dan rupanya sang ibu sudah menyiapkan makan siang untuknya, sedangkan sang ayah sudah menunggu sembari duduk di hadapan hidangan. Karenanya, anak ini bergegas ‘Wastapel’ untuk mencuci tangan. Setiba disana, ia mencuci muka dan tangannya, kemudian mengelapnya dengan tissue yang tersedia di depan cermin. Namun tak disangka, setelah ia bercermin dan hendak melangkah ke meja makan, tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan, langkahnya menjadi sangat berat dan akhirnya ia terjatuh dan tersungkur di tempat itu, ia tidak bisa bergerak lagi untuk selama-lamanya. Dia akhirnya terjaring oleh ucapan dan tantangannya berapa jam lalu. Dia benar-benar telah menantang Allah SWT.

Setelah beberapa saat di chek, benar dia sudah tidak bernyawa lagi. Ternyata, dari hasil pemeriksaan dokter, diketahui bahwa sebab kematiannya hanyalah karena ada air yang masuk ke telinganya saat membasuh muka. Mengenai hal ini, Dr.’Abdur Razzaq Nawfal -Rahimahullah- berkata, “Allah hanya menghendaki dia mati seperti keledai!”. Sebagaimana diketahui berdasarkan penelitian ilmiah bahwa bila air masuk ke telinga keledai atau kuda, maka seketika ia akan mati?.

Ustadz Teguh Cordova

ALLAHUMA INNI AS'ALUKA HUSNUL KHOTIMAH WANAUDZUBIKA MIN SU'UL KHOTIMAH


FIKIRKAN

Hari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kita mengeluh bahawa kita buruk,
Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri anda,
Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita,
Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya,
Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan,
Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup !

BIDADARI 2 DI SYURGA

Mereka sangat cangat cantik, memiliki suara-suara yang indah dan berakhlaq yang mulia. Mereka mengenakan pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu. Siapapun ingin bertemu dengan mereka, ingin bersama mereka dan ingin hidup bersama mereka.

Semuanya itu adalah anugrah dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan sifat-sifat terindah kepada mereka, yaitu bidadari-bidadari surga. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa’ib, jama’ dari ka’ib yang artinya gadis-gadis remaja. Yang memiliki bentuk tubuh yang merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah RadhiAllohu anha pernah berkata: “warna putih adalah separoh keindahan”

Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata:

Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

Al-’In jama’ dari aina’, artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Alloh Subhanahu wa Ta’ala mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya: ”Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci.” (QS: Al-Baqarah: 25)

Makna dari Firman diatas adalah mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. Mereka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair: Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar jika kau ingin cinta kita selalu mekar.

Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gadis, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Aisyah RadhiAllohu anha, pernah bertanya kepad Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, yang artinya: “Wahai Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?” Beliau menjawab,”Di tempat yang belum dijadikan tempat gembalaan.” (Ditakhrij Muslim) Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

Rasululloh Shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seorang janda, yang artinya: ”Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?” (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-’Urub, jama’ dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, “Al-’Urub, jama’ dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun”, artinya Fulan berumur sebaya dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

Semoga para wanita-wanita di dunia ini mampu memperoleh kedudukan untuk menjadi Bidadari-Bidadari yang lebih mulia dari Bidadari-Bidadari yang tidak pernah hidup di dunia ini. Wallahu A’lam

(Sumber Rujukan: Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin [Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu], karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah)

HANYA ALLAH

Ketika laut bergemuruh, ombak menggunung dan badai kencang menerjang, semua penumpang bahtera akan panik dan berteriak pasrah, "Ya ALLAH!"...

Ketika seseorang tersesat di tengah padang sahara, kendaraan menyimpang jauh dari jalurnya, dan para kafilah bingung menentukan arah perjalanannya, mereka akan menyeru, "Ya ALLAH!"...

Ketika musibah menimpa, bencana melanda dan tragedi terjadi, mereka yang tertimpa akan selalu berseru, "Ya ALLAH!"...

Ketika pintu-pintu permintaan telah tertutup dan tabir-tabir permohonan digeraikan, orang-orang mendesah, "Ya ALLAH!"...

Ketika semua cara tak mampu menyelesaikan, setiap jalan terasa menyempit, harapan terputus dan semua sarana membuntu, merekapun menyeru, "Ya ALLAH!"...

Ketika bumi yang luas terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup dan jiwa serasa seolah tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus dipikul, menyerulah "Ya ALLAH!"...

Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata bening yang menetes dan semua keluh kesah yang tiada henti yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadiratNya...

Setiap dini hari menjelang, tengadahkan kedua telapak tangan, julurkan lengan penuh harap dan arahkan terus tatapan mata ke arahNya untuk memohon pertolongan...

Hanya dengan namaMu lisan ini bersenandung, memohon keselamatan, bergumam memanggil...Hanya dengan berdzikir kepadaMu hati terasa nyaman, jiwa menjadi tenteram dan perasaan menjadi teduh, seluruh urat syaraf tak lagi menegang, sehingga bimbingan Ilahi membuahkan hasil dan menuai keyakinan, bahwa Engkau adalah Maha Lembut terhadap hambaMu...

[www.hatibening.com / www.kajianislam.net])

WANITA DI SURGA

Wanita Di Syurga Bagaimana Keadaannya?

Oleh: Sulaiman bin Shaleh al-Khurasyi

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Salawat dan salam untuk Nabi dan Rasul termulia Muhammad saw., keluarga dan para sahabatnya.Selanjutnya, setelah saya melihat banyaknya pertanyaan dari kaum wanita tentang keadaan mereka nanti di syurga dan apa yang akan menanti mereka di sana, saya pun ingin sekali mengumpulkan beberapa pelajaran yang akan memperjelas masalah ini bagi mereka, dengan memberikan rujukan (referensi) pelajaran-pelajaran tersebut dari dalil-dalil sahih dan perkataan ulama. Demikian saya pun menyebutkan hal-hal berikut ini dengan senantiasa bermohon pertolongan kepada Allah SWT:

1. Wanita tidaklah perlu ditegur ketika mempertanyakan tentang balasan dan bentuk kenikmatan yang akan didapatkannya di syurga, hal ini karena jiwa manusia umumnya sering memikirkan tempat kembalinya dan masa depannya. Terlebih Rasulullah saw. pun tidak menegur pertanyaan-pertanyaan para sahabat tentang keadaan syurga dan apa yang ada di dalamnya. Mereka bertanya kepada Nabi: "Bagaimanakah bangunan surga itu ?", Rasulullah pun menjawab:

"Batu batanya dari emas dan batu bata lainnya terbuat dari perak …"(Hr. Ahmad dan Tirmizi dan disahihkan oleh al-Albani dalam al-Misykat, 5630)

Pada kesempatan lain, para sahabat bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, apakah di syurga nanti kami akan mendapatkan kembali istri-istri kami ?", Rasulullah saw. pun memberitahu bahwa hal itu akan mereka dapatkan. (Hr. Abu Nu'aim dalam Shifat al-Jannah dan disahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits al-Shahihah, 367).

2. Sesungguhnya jiwa manusia, baik laki-laki ataupun wanita sangat rindu dan senang ketika disebutkan tentang syurga dan berbagai macam kenikmatan yang ada di dalamnya. Hal ini tentulah baik, namun dengan syarat hal ini tidak dijadikan hanya sekedar angan-angan yang sia-sia belaka tanpa diiringi dengan amal shaleh. Karena Allah SWT berfirman kepada orang-orang yang beriman:

"Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan."(Qs. Al-Zukhruf: 72)

3. Sesungguhnya surga dan segala kenikmatannya tidaklah dikhususkan untuk laki-laki saja sehingga wanita tidak mendapatkannya. Akan tetapi syurga adalah untuk orang-orang bertaqwa:

disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa, (QS. Ali Imran:133).

Dari dua jenis kelamin yang ada sebagaimana Allah SWT sudah mengabarkan kita tentang hal itu, Dia berfirman:

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga …(QS. Al-Nisa':124).

4. Seorang wanita sepatutnya tidaklah menyibukkan pikirannya dengan banyak bertanya dan menyelidiki secara rinci tentang masuknya dirinya ke dalam surga akan diapakankah dirinya ? kemana akan dibawa pergi ? dan pertanyaan-pertanyaan lainnya, seakan dirnya akan menuju ke gurun pasir yang menakutkan. Cukuplah dirinya mengetahui bahwa hanya dengan masuk ke dalam syurga ia akan terbebas dari segala penderitaan dan kesusahan yang menghampirinya dan akan menuju ke kebahagiaan yang terus-menerus dan kekekalan abadi. Cukuplah firman Allah SWT tentang syurga:

Mereka tidak merasa lelah di dalamnya dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan daripadanya. (QS. Al-Hijr:48)

Dan firmanNya:

di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. (QS. Al-Zukhruf:71)

Dan sebelum itu semua, cukuplah firman Allah SWT tentang penghuni syurga:

Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun ridha terhadap-Nya. …(QS. Al-Maidah:119)

5. Ketika mengingat Allah SWT karena kenikmatan-kenikmatan syurga yang terdiri dari beraneka macam makanan, keindahan pemandangannya, tempat tinggalnya, dan pakaiannya, sesungguhnya semua itu adalah untuk kaum lelaki dan perempuan. Semuanya kelak akan menikmatinya. Akan tetapi persoalannya adalah sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan laki-laki terpikat dan merindukan syurga karena mengingat bidadari-bidadari dan wanita-wanita di syurga, dan yang seperti itu tidak disebutkan untuk wanita. Karenanya para wanita pun bertanya apakah sebabnya ?

Jawabannya adalah: " Sesungguhnya Allah SWT berfirman:

Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuat-Nya, dan merekalah yang akan ditanyai. (QS. Al-Anbiya':23)

Namun demikian tidaklah mengapa mengetahui hikmah Allah SWT atas hal ini berdasarkan nas-nas syar'i dan kaidah-kaidah pokok ajaran Islam, karenanya pendapat saya:

1. Umumnya wanita mempunyai rasa malu, dan karena inilah Allah SWT pun tidak menjadikan mereka terpikat dengan apa yang mereka malu padanya.

2. Kerinduan seorang wanita akan laki-laki tidaklah seperti kerinduan seorang laki-laki kepada wanita sebagaimana sudah dimaklumi, karenanya Allah SWT pun menjadikan mereka merindukannya dengan mengingat wanita-wanita syurga, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

"Tidaklah ada fitnah yang aku tinggalkan sesudahku yang lebih berbahaya daripada wanita bagi kaum laki-laki." (Hr. Bukhari dan Muslim)

Adapun wanita, mereka pun dijadikan oleh Allah SWT merindukan aneka perhiasan dari jenis-jenis pakaian bagus dan permata melebihi kerinduan laki-laki akan hal itu, karena ini termasuk hal-hal yang dikodratkan bagi mereka sebagaimana Allah SWT berfirman:

Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan ... (QS. Al-Zukhruf:18)

" Syekh Ibn 'Utsaimin berkata: "Sesungguhnya Allah SWT menyebutkan isteri untuk suami, karena suamilah yang mencari mereka dan merekalah yang menginginkan wanita, sehingga disebutkanlah isteri-isteri untuk laki-laki di syurga dan tidak menyebut sebaliknya. Dan ini bukanlah berarti bahwa wanita di syurga tidak akan mempunyai suami, akan tetapi mereka kelak mempunyai suami dari jenis manusia juga." (Al-Majmu' al-Tsamin, 1/175).

KEHIDUPAN YANG SEMPIT

Firman Allah: Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (124) Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (125) Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu [pula] pada hari ini kamupun dilupakan". (126)”. (Taha: 20: 124-126).

Ayat ini diturunkan sebagai peringatan kepada manusia yang durhaka terhadap perintah Allah. Perintah Allah kepada manusia dapat dibagi 2 bagian; perintah secara khusus dan perintah secara umum,atau di sebut juga ibadah makhdoh dan ghairu makhdoh.

Perintah secara KHUSUS ( makhdoh ) adalah perintah ibadah yang diuraikan dengan detail dan dijelaskan perlaksanaannya oleh Rasulullah S.A.W. diantaranya contoh perintah khusus adalah fardhunya solat, zakat, puasa, taati ibu bapa, menutup aurat, menjauhi maksiat, pembahagian harta pusaka, halal haram dalam makanan dan dalam bekerja serta banyak lagi.

Perintah secara UMUM ( ghairu makhdoh ) yaitu merujuk kepada jalan ibadah yang bersifat prinsip universal yang perlu dijadikan amalan dalam setiap aspek kehidupan. diantaranya termasuk saling bantu-membantu ke arah kebaikan, menghormati tetangga, sahabat dan golongan yang lebih tua, tidak merusak alam sekitarnya, berlaku adil dalam kepimpinan, membela kaum yang lemah dan ditindas, berkasih sayang sesama manusia walaupun dengan bukan Muslim dan banyak lagi.

Secara garis besarnya, dalam suatu organisasi atau badan usaha bahkan sebuah Negara kalaupun sekiranya seorang pekerja atau rakyat terbukti melanggar peraturan dan undang-undang, maka ia akan dijatuhkan hukuman yang sesuai dengan pelanggarannya. Begitu juga apabila Allah menurunkan perintahNya baik perintah umum ataupun khusus, apabila diingkari, maka tentulah ada balasannya. Kecuali apabila hamba-hambanya mengaku bersalah dan kembali ke jalan Allah maka Allah Maha Pengampun dan Maha penyayang.

“KEHIDUPAN YANG SEMPIT” ditafsirkan dengan beberapa tafsiran oleh Ilmuan Islam. Pandangan pertama mengatakan kehidupan yang sempit adalah kehidupan yang jauh dari rahmat Allah di dunia. Orang yang mengingkari perintah Allah sama juga baik yang bersifat khusus ataupun umum akan sentiasa berada dalam keadaan susah walaupun dilimpahi dengan limpahan kekayaan material. Jiwanya kosong dan batinnya menderita… Sahabat, bukankah sekarang ramai orang tertawa walau tidak gembira dan ramai yang terlihat gembira walaupun tidak bahagia???

Sebagian ilmuan Islam pula mentafsirkan bahawa “kehidupan yang sempit” adalah apabila seseorang itu dimasukkan ke dalam kubur selepas kematiaanya. Dia akan dihimpit sehingga bertemu dua tulang rusuknya. Keadaan ini berkelanjutan hingga ia dibangkitkan pada hari perhitungan. nampaknya, deritanya tetap belum berakhir… Dibangkitkan dalam keadaannya “BUTA”. Ikrimah, seorang sarjana Islam mengatakan yang dimaksudkan dengan “BUTA” ialah matanya tidak dapat melihat apa-apa kecuali NERAKA yang menyala-nyala.

Marilah kita menjaga keyakinan kita selagi nadi masih berdenyut dan tubuh masih bernafas. Akhirnya, berpeganglah pada janji: “Di mana bumi dipijak, di situ ISLAM dijunjung!”

"Manusia biasa yang diberi gelar sebagai hamba Allah SWT, memang tidak terlepas dari melakukan dosa baik dosa yang kecil ataupun besar. Oleh karena itu, segeralah kita memohon ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang terhadap hamba²-Nya"

ISTIGHFAR

Sebelum lanjut ke paragraf-paragraf berikut, alangkah baiknya jika kita terlebi dahulu membaca istigfar;
Astagfirullah al-adzhim…
Astagfirullah al-adzhim…
Astagfirullah al-adzhim…


Istigfar ialah memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa dan keslahan yang telah kita perbuat, karena tak seorang pun yang terbebas dari kesalahan, baik karena lalai menunaikan kewajiban atau karena melakukan sesuatu yang haram. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Anas ra.)

Sudaraku…
Memohon ampun adalah perintah dari Allah SWT. Siapa yang melaksanakannya ia mendapat pahala dan siapa yang meninggalkannya maka ia berdosa. Allah SWT berfirman, ”Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (QS. An-Nasr [110]: 3)

Dia juga berfirman, ”Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya, (jika kamu, mengerjakan yang demikian) niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.” (QS. Huud [11]: 3)

Dan masih banyak lagi ayat yang memerintahkan kita memohon ampun kepada-Nya atas dosa dan kesalahan yang kita perbuat. Dan, yakinlah bahwa siapa yang memohon ampun kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, niscaya Dia akan memberinya ampunan. Dia Maha pengampun dan Maha penerima tobat.

Sudaraku...
Berapa jumlah amal yang anda (dan saya) perbuat dalam sehari. Manakah yang lebih banyak mengisi hari-hari kita, amal atau dosa? Amal yang kita lakukan setiap hari tak menjadi jaminan bagi kita untuk memasuki surga Allah SWT. Tiket menuju surga adalah rahmat Allah SWT.

Rasulullah saw bersabda, ”Ketahuilah oleh kalian bahwa tidak seseorang pun yang dapat selamat karena amalnya." Mendengar hal tersebut, para sahabat bertanya, "Termasuk engkau, wahai Rasulullah?! " Beliau Saw menjawab, "Termasuk saya, kecuali jika Allah SWT melimpahkan padaku rahmat dan karunia-Nya. " (HR. Muslim dari Abu Hurairah ra)
Salah satu jalan untuk mendapatkan rahmat Allah SWT adalah dengan banyak istigfar. Allah SWT berfirman melalui lisan nabi Saleh as., ”Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.” (QS. An-Naml [27]: 46)

Maka gapailah rahmat Allah SWT dengan selalu menghiasi hati dan lisan kita dengan permohonan ampun kepada-Nya.

Saudaraku...
Allah SWT juga menyuruh kita memperbanyak istigfar supaya kita termasuk dalam golongan orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang dijamin mendapatkan kesuksesan di dunia dan akhirat. Salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang selalu istigfar. Allah SWT berfirman, ”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa; (yaitu)…dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 133)

Saudaraku…
Istigfar adalah amalan yang sangat istimewa. Karena, salah satu amalan yang dapat menghindarkan azab Allah SWT adalah dengan banyak beristigfar. Allah SWT berfirman, “Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun.” (QS Al-Anfal [8]: 33)

Karena keistimewaannya itu pula sehingga Allah SWT menggolongkan orang-orang yang senantiasa memohon ampun sebagai pribadi-pribadi terbaik. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam adalah pelaku kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.”

Karena keistimewaannya itu pula sehingga Allah SWT menggolongkan mereka termasuk dalam hamba-hamba yang dicintai oleh-Nya. ”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (Al-Baqarah [2]: 222)
Itulah beberapa diantara kekuatan dan keutamaan memohon ampun kepada Allah SWT.
* * *

Saudaraku...
Apakah anda pernah merasa galau, jenuh dan semacamnya? Kegalauan adalah salah satu ”musibah” yang senantiasa menghinggapi seseorang. Bahkan Rasulullah saw pun pernah mengalami hal yang sama, namun kesemuanya itu dapat diatasi dengan banyak istigfar.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kegalauan terkadang menghinggapi hatiku; dan sungguh aku akan senantiasa istigfar 100 kali dalam sehari.” (HR. Muslim)

Maka perbanyaklah istigfar; usirlah perasaan-perasaan tersebut dengan banyak istigfar, sehingga kelapangan dada dan kejernihanlah yang menghiasi jiwa dan hati kita.

Saudaraku...
Manfaat istigfar tak hanya dapat dirasakan di akhirat kelak. Manfaatnya sudah dapat dirasakan ketika kita masih hidup, seperti diberi kemudahan, kelapangan dada dan kejernihan jiwa. Rasulullah saw juga bersabda, “Siapa yang senantiasa beristigfar, niscaya Allah SWT berikan padanya jalan keluar dari kesempitan, kelapangan dari kegalauan, dan rezeki dari arah yang tak terduga.” (HR. Abu Daud, darri Ibnu Abbas ra.)
Melalui lisan nabi Nuh as., Allah SWT berfirman, “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh [71]: 10-12)

Melalui kedua nash (dalil Al-Qur’an dan Hadits) di atas, kita dapat melihat bahwa istigfar itu bukan hanya bermanfaat untuk kehidupan akhirat semata, tetapi ia juga mendatangkan banyak manfaat keduniaan, antara lain:
- Kelapangan dada;
- Jalan keluar dari berbagai persoalan;
- Rezeki dari arah yang tak terduga;
- Memperbanyak harta dan anak, dan
- Kebun-kebun yang di dalamnya terdapa sungi-sungai.

Demikianlah keutamaan dan keistimewaan istigfar. Ia adalah solusi untuk berbagai permasalahan, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Saudaraku...
Mari hiasi hari-hari kita dengan memperbanyak istigfar. Iringalah segala aktivitas dan kesibukan kita dengan istigfar, insya Allah, Allah akan berikan solusi atas berbagai permasalahan yang kita hadapi. Wallahu A’lam Bish-Shawab. *** (M.Yusuf Shandy)

MUHASABAH PASCA GEMPA

Oleh: Abdullah Shaleh Hadrami

Segala puji hanya bagi Allah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, keluarga, para shahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat; Amma ba’du,

Akhir-akhir ini kita sering menyaksikan terjadinya musibah di berbagai negeri belahan dunia termasuk di negeri kita Indonesia. Mulai dari tsunami, banjir, tanah longsor, gempa, dll. Sebagai muslim kita tentu merasa prihatin atas semua ini dan berusaha untuk membantu mereka semampu kita.

Semua kejadian ini bukanlah sekedar bencana alam biasa tanpa makna dan arti karena tidak mungkin Allah –subhanahu wa ta’ala menciptakan sesuatu yang sia-sia. Musibah-musibah ini menjadikan kita introspeksi bahwa kita adalah lemah dalam kekuasaan Allah–subhanahu wa ta’ala. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa’: 28).


UJIAN ADALAH SUNNATULLAH

Setiap makhluk hidup pasti akan mendapatkan ujian dan cobaan berupa kesenangan dan kesusahan, kebaikan dan keburukan.

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Kami akan menguji kamu sekalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu sekalian dikembalikan.” (QS. 21 Al-Anbiyaa’: 35).

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. 7 Al-A’raaf: 168).

Yang dimaksud ujian yang baik-baik adalah: Ketaatan, hidayah, kesehatan, kedamaian, kekayaan, rumah tangga yang harmonis, keamanan dan segala yang menyenangkan kita.

Adapun ujian yang buruk-buruk adalah: Kemaksiatan, kesesatan, sakit, menderita, kesusahan, kemelaratan, rumah tangga yang tidak harmonis, ketakutan dan segala yang tidak menyenangkan kita.

Umar bin Al-Khaththab –radhiallahu anhu berkata: “Semua yang tidak menyenangkanmu adalah musibah.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dll, sahih).

Tujuan utama dari semua ujian dan cobaan ini adalah agar supaya kita kembali kepada Allah –subhanahu wa ta’ala dengan selalu berbuat taat, bertaubat dari semua maksiat dan tidak melakukannya lagi.


MENGAPA TERJADI GEMPA?

Ibnul Qayyim –rahimahullah dalam kitabnya Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’ menyebutkan riwayat-riwayat berikut ini (hlm 72-74): Ibnu Abi Ad-Dunya –rahimahullah meriwayatkan dari Anas bin Malik –radhiallahu anhu, bahwasanya beliau dan seorang lagi masuk menemui ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha, lalu orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Beritahukanlah kepada kami tentang gempa.” Ibunda ‘Aisyah –radhiallahu anha menjawab: “Apabila mereka telah memperbolehkan perzinahan, meminum khamer, memainkan alat musik, maka Allah –subhanahu wa ta’ala marah di langitNya dan berfirman kepada bumi: “Bergoncanglah atas mereka! Jika mereka bertaubat dan meninggalkan perbuatan tersebut (berhentilah), jika tidak, maka hancurkanlah mereka!” Orang tersebut berkata: “Wahai Ummul Mukminin! Apakah itu adzab atas mereka?” Beliau menjawab: “Itu adalah peringatan dan rahmat bagi orang-orang beriman, dan hukuman, adzab serta murka atas orang-orang kafir.”

Berkata Anas –radhiallahu anhu: “Aku tidak pernah mendengar hadis sepeninggal Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam yang lebih menyenangkanku daripada hadis ini.”

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah meriwayatkan dari Shafiyyah –radhiallahu anha, beliau berkata: “Bumi bergoncang di Madinah pada masa Umar –radhiallahu anhu, lalu beliau berkata: “Wahai manusia! Ada apa ini? Alangkah cepat penyimpanganmu! Kalau sekiranya bumi telah kembali seperti semula aku tidak akan tinggal bersamamu di sana.”

Berkata Ka’ab –rahimahullah: “Sesungguhnya terjadinya gempa bumi adalah apabila dilakukan kemaksiatan di atasnya, lalu bumipun bergetar takut apabila Allah-subhanahu wa ta’ala mengetahuinya.” (Riwayat-riwayat diatas tidak diberi komentar oleh pentahqiq kitab tersebut Syaikh Ali Hasan)


BAHAYA PERBUATAN DOSA DAN MAKSIAT

Perbuatan dosa dan maksiat adalah sangat berbahaya, bahayanya bagi hati adalah ibarat bahaya racun terhadap tubuh. Semua kerusakan, bencana dan penyakit yang terjadi di dunia dan akhirat adalah disebabkan oleh dosa dan maksiat. Perbuatan dosa dan maksiat mendatangkan bencana, merubah karunia, menurunkan bala’ dan menghalangi doa.

Apa yang menyebabkan iblis dikeluarkan dari surga, diusir dan dilaknat? Apa yang menyebabkan penduduk bumi di tengelamkan pada masa Nabi Nuh –alaihis salam? Apa yang menyebabkan kaum ‘Ad dihancurkan oleh angin? Apa yang menyebabkan dibinasakannya kaum Luth –alaihis salam? Apa yang menyebabkan tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya? Apa yang menjadikan Qorun dibenamkan ke dalam bumi beserta semua harta dan keluarganya? Dst.

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS. An-Nahl: 112).

Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Ruum: 41).

Imam Ahmad –rahimahullah meriwayatkan dari Ummu Salamah –radhiallahu anha, beliau berkata, aku telah mendengar Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Apabila terjadi kemaksiatan pada umatku, pasti Allah –subhanahu wa ta’ala mengirimkan adzab dari sisiNya kepada mereka semua” Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya: “Wahai Rasulullah! Apakah tidak ada orang baik pada mereka saat itu?” Beliau –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam menjawab: “Ya, ada”. Ummu Salamah –radhiallahu anha bertanya lagi: “Bagaimana dengan mereka?” Beliau menjawab: “Mereka terkena sebagaimana manusia lain, kemudian mereka mendapat ampunan dan keridhaan Allah –subhanahu wa ta’ala.”


MUHASABAH

Marilah kita semua melakukan muhasabah atau introspeksi atas semua perbuatan yang kita lakukan, apakah perbuatan tersebut telah benar ataukah belum? Apakah kita telah meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan ataukah masih terus menerus melakukannya?

Ada empat tingkatan dosa yang harus kita hindari:

(1) Syirik atau menyekutukan Allah –subhanahu wa ta’ala. Ini adalah dosa yang paling besar dan Allah –subhanahu wa ta’ala tidak akan mengampuni apabila pelakunya meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An-Nisaa’: 48). Alangkah banyak kesyirikan ada masa sekarang?.

(2) Bid’ah atau penyimpangan dalam beragama yang menyelisihi Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, baik penyimpangan dalam aqidah atau amaliah. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104).

(3) Kedhaliman-kedhaliman, yaitu dosa-dosa yang berupa kedhaliman dan ada keterkaitan dengan orang lain, seperti mengambil harta orang lain tanpa hak, memfitnah orang lain dll. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang dhalim.” (QS. Ali ‘Imran: 57).

(4) Kemaksiatan-kemaksiatan yang berhubungan dengan Allah –subhanahu wa ta’ala selain ketiga di atas. Allah –subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ahli surga: “Dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji.” (QS. Asy-Syura: 37)

Bagi orang-orang yang membantu dan memberikan sumbangan kepada mereka yang tertimpa musibah hendaklah ikhlas dalam memberikan semua itu dan semata-mata karena Allah –subhanahu wa ta’ala dan mengharap ridhaNya, karena Allah –subhanahu wa ta’ala tidak menerima amal apapun kecuali yang ikhlas dan mengharapkan ridhaNya. Rasulullah –sallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda: “Allah tidak akan menerima amalan kecuali yang ikhlas dan hanya mengharapkan wajahNya.” (HR. An-Nasa’i dengan sanad hasan).

Semoga Allah –subhanahu wa ta’ala memberikan kepada kita semua pahala dan balasan kebaikan, amien ya Robbal ‘alamin.



Maraji’:

- Al-Qur’an dan Tejemahnya.

- Ad-Da’ Wa Ad-Dawa’, Ibnul Qayyim. Tahqiq, ta’liq dan takhrij Ali bin Hasan bin Ali bin Abdil Hamid Al-Halabi Al-Atsari. Cetakan ketiga th 1419H / 1998M. Penerbit Dar Ibnil Jauzi KSA.

- Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid. Edisi Revisi Hanya Memuat Hadis-Hadis Sahih, Cetakan th 1419 H / 1998M. Penerbit Dar Al-Aqidah Litturats, Iskandariyah.

- Tuhfatul Maridh, Abdullah bin Ali Al-Ju’aitsin. Cetakan pertama th 1415 H / 1994 M. Penerbit Dar Al-Wathan Riyadh KSA. Dll.