Hijaiyah Awal
dan bulan merah di dadamu, saat ku genggam sepasang aksara
Alif yang jatuh di reranting tak sempat kita eja
Nun panjang dari luka yang remang
aku mengaji dalam tembang-tembang ganjil
di sela almanak sebelum jatuh adalah tiada
yang kekal hanyalah tanggal
yang sesaat adalah nyata
maka bulan tak habis di sini
maka roh-roh adalah dzat yang sepi
ku terima mereka menetap di jisimku
sebagai musafir-musafir yang menagih janji
kelembak dupa dan doa-doa dihabisi di sini
dadaku rumah sunyi
Hijaiyah Akhir
dan tembangkan Nun mu dalam-dalam
agar tegak Alif di tubuhku
kitalah yang samar sebenarnya
karena gaib adalah nyata
tapi tak ada lolong anjing di kolong ranjang
karena aku yang menjelma bayang-bayang
saat santri-santri mengaji kitab kuning
imriti dan nahwu shorof
kita belajar membaca yang tak pernah usai
langit di atas kepala berwarna jelaga
tak lekang, tak rindang
hitam putih sepasang
kita gamang
Ayat Pembuka
dan tiba-tiba detak udara melemah di bawah lampu
saat kupu-kupu berjatuhan serupa gerimis yang matang
kau membatu di sudut gang,
para pendusta terbangun dan menari di makam
menggenggam bulan tembaga
mengarak berhala berwajah kembar tiga
sebelum akhirnya ibrahim mengalungkan sebilah kapak di leher kita
Ayat Api
dan masih kita genggam kitab itu tapi tak hendak kita baca isinya
karena sekeping kaca di dalam hanya memantulkan luka-luka
sayatan yang dalam dari huruf-huruf purba
Sodom dan Gomorah
malaikat-malaikat membuang muka dari nama sebuah kota
seorang nabi menziarahi dendam di atas bukit
ada sungai di bawah kota
ada telaga di mata
ada api di jantungnya
ada kutuk menebar tiada
seorang bocah lahir dari rahim batu
bertulis Kaf Fa’ Ro’ di keningnya
Ayat Tengah
dan gaib tak tahu hendak menjelma apa pada malam di tengah gurun
lelaki bertongkat kayu mengacungkan jarinya ke langit
laut menjadi batu
sungai-sungai mengalirkan batu
angin-angin menebar batu
gerimis dari rintik-rintik batu
orang-orang mencetak tuhan dari batu
berwajah lembu
Ayat Luka
seorang gadis perawan melahirkan bintang kembara dari rahimnya
muara angin-angin tak berumah
luka dari huruf-huruf ganjil yang tak ramah
tapi kita tetap sesat di rumah sendiri
menatap timur kepada barat
membaca langit di atas tanah
dan tiba-tiba harus menyerah di atas sajadah
“lihat, seorang di salib altarnya sendiri saat requiem dan misa arwah”
sedang langit di atas betapa nisbi
tak terjamah
Ayat Muara
seorang lelaki melemparku ke dalam kitab abu-abu
bahkan padanya aku tak tahu hendak ke mana puisi ini menuju
Senin, Oktober 05, 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar